Cipadu Jaya 56 Larangan

Minggu, 21 September 2008

Suku Anak Dalam Siap Masuk Islam

Suku Anak Dalam Siap Masuk Islam
Lima KK Suku Anak Dalam Siap Masuk Islam Lima kepala keluarga (KK) Suku Anak Dalam (SAD) atau dikenal Orang Rimba dari kelompok Temenggung Jawat, yang bermukim di sekitar hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Kabupaten Sarolangun, Jambi siap menganut agama Islam.

Mereka kini sedang dibina mempelajari ilmu agama Islam dan siap masuk Islam agar bisa bersosialisasi dengan masyarakat kampung, ungkap Direktur Eksekutif Kelompok Peduli Suku Anak Dalam (Kopsad) Provinsi Jambi, Budi VJ, Minggu (14/9).

Menurut Budi, komunitas SAD dari Kelompok Jawat itu mengharapkan pemerintah membangun rumah layak huni untuk komunitas suku tertinggal itu agar tidak lagi hidup berpindah-pindah di dalam hutan.

Kondisi kehidupan SAD di daerah itu amat memprihatinkan dan untuk sementara sudah ada perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berjanji akan membuatkan tempat tinggal mereka.

Budi mengatakan, belasan KK SAD binaan Kopsad, sejak beberapa tahun lalu telah menganut agama Islam dan di antaranya sudah ada yang diberangkatkan ke Tanah Suci Mekah.

Seorang Guru Besar dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syaifuddin Jambi, Prof DR Mutholib yang lebih 20 tahun meneliti kehidupan SAD, menyatakan Orang Rimba yang kini disebut Komunitas Adat Tertinggal tidak mengenal pendidikan formal apalagi agama.

Orang Rimba hanya mengenal agama lokal sebagai kebiasaan yang berlaku di dalam kehidupan komunitas tersebut dengan mengadobsi agama mayoritas masyarakat kampung sekitar, seperti tahu bulan puasa tidak boleh makan dan jalan-jalan, menanam padi setelah Hari Raya Haji.

Bahkan di kalangan tokoh SAD yang bisa mengobati orang sakit atau digigit hewan berbisa dengan mengucapkan mantra berkat "Kabul Laillahailallah"--padahal mereka bukan beragama Islam-mr-republika

Riak Telaga di Bening Mata: Perempuan

Riak Telaga di Bening Mata: Perempuan

Oleh Gita Pratama

Dengan langkahnya yang mantap setelah ia meninggalkan senyum tipis, ia membalikkan tubuhnya dariku. Tapi tak segera kutemukan guncang dipundaknya. Ia meninggalkan malam yang hambar begitu saja. Kemudian langkahnya semakin melebar ketika terdengar ricuhan bintang yang sedang mabuk, menirukan tangis hewan malam yang sengau di telinga. Perempuan itu telah memutuskan untuk memilih pergi dariku, ya.. perempuan bermata bening itu akan begitu saja pergi.

“Dis.. maafkan aku hanya bisa meninggalkan sekelumit kenangan, tanpa bisa memberimu mimpi berlebih,” bisikku ketika ia tak lagi mau memelukku dengan erat. Dan aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu. Walaupun sekali lagi senyumnya yang bagai tirai di pagi hari, mampu meluapkan rasa bersalah yang menganak di ujung hati.

Ranting pohon semakin kencang mengucap serapah pada angin, tak mungkin ia patah karnanya. Senyumnya pada daun yang gugur hanya ucapan selamat tinggal pada angin yang menamakannya rindu.

Begitulah perempuan itu mengumpamakan dirinya, berkali kali ia berkata “Aku tak mau ada luka menganga di antara kita. Jika kita masih menemukan rindu maka kita masih syah untuk bertemu. Dan ini resiko kita yang berdiri di padang ilalang.” Aku hanya terdiam terpaku mendengar ia berkata begitu.

Di tepian matanya, tak pernah sekalipun aku melihat danau yang berkabut. Aku selalu menemukan garis tipis yang selalu ia tarik di ujung bibirnya. Ingin sekali aku menemukan sesuatu di matanya, tapi ternyata itu hanya harapan semata. Walaupun aku telah bersiap mengosongkan dada untuk mendekapnya jika ia menangis tersedu. Senyumnya yang tak pernah usai walaupun kisah ini berawal dari masalah yang ada sejak awal aku dan dia bertemu. Itu juga yang membuatku lupa bahwa aku sangat ingin berbagi dan menemani kesedihannya. Aku menjadi laki-laki egois yang hanya ingin mereguk setiap senyumnya untuk menyejukkan batin yang sepertinya telah koyak.

Malam itupun berlalu dengan lambaiannya seperti ucapan selamat tinggal. Tapi perempuan itu tak pernah berkata begitu. Dalam hati aku membuang jauh pikiran tentang arti lambaian itu, lalu berbisik “Sayang, lain waktu semoga kita bertemu lagi!”. Ia menggeleng dengan senyum yang membuat bibirnya membentuk garis lengkung, sembari berkata sangat lirih “Tidak akan ada lain waktu, sayang..!”. Ataukah mungkin memang aku yang tak pernah mau membaca tanda, lalu menjadi buta dan berlarian mencari jalan yang lebih terang sebagai jalan menuju selamat? Aku tidak pernah benar-benar mengenal arti setiap senyumannya, seperti saat ini. Dimatanya aku juga tak pernah menemukan riak yang membuat sang senyum enggan bertamu. Aku semakin tersesat.
*********
Sore itu begitu manja, tiba-tiba dingin menusuk, matahari begitu angkuh untuk tenggelam. Cahaya yang biasanya keemasan hari itu menjadi buram, entah ada pertanda apa. Tapi aku tetap bersiap menemui perempuanku. Dengan baju biru laut dan sedikit wewangian beraroma melati yang kusemprotkan di balik kerah, aku bergegas menemuinya. Perempuan yang sudah beberapa minggu kutemui di kota kecil ini. Aku sudah bersiap dengan kata-kata yang bagiku adalah kabar buruk. Jantungku berdebar berharap akan bertemu riak telaga di bening mata, hingga aku dapat leluasa mendekapnya dan merasakan isaknya.

Aku menjadi enggan melihat malam yang sebentar lagi datang. Perpisahan… ya perpisahan. Aku sedang menyiapkan sebuah perpisahan di tengah riuh nyanyian jangkrik dan kepik. Kebersamaanku dengan perempuan itu hanya sebentar, dan aku belum tahu apapun tentangnya. Walaupun sudah banyak cerita yang ia kabarkan setiap harinya. Aku begitu ingin mengenal arti setiap senyumannya itu. Tapi rupanya waktu telah habis dan ini harus disegerakan sebelum aku dan dia menjadi lebur kemudian.

Kemudian waktu menjadi batu yang terlempar disegala arah, menghujani kita dengan luka luka yang lama lama menjadi begitu sangat biasa. Dan batu menjadi waktu yang terdiam lama diujung penantian untuk kemudian lebur menjadi debu.
**********
Kepalaku berputar putar dihujani kenangan tentang perempuan itu. Pertemuan tanpa duga yang telah memberikan perasaan alpha pada terjal hidup. Kesan yang ditinggalkan oleh pesona mata yang indah. Kutemukan wajah itu diantara penumpang kumal yang lusuh dimakan lelah perjalanan. Hujan tipis waktu itu sedang turun dan aku menangkap sebuah bayangan yang terpantul dibalik jendela. Warna mata bening dengan wajah yang bercahaya berpendar menyerupai pelangi, seperti lukisan abstrak yang samar diatas kanvas.

Perempuan itu menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang basah oleh titik titik hujan. Betapa ayu wajahnya dengan bibirnya yang tipis dan matanya yang bening, sebening butir hujan yang berlarian di jendela itu. Aku membayangkan jika titik titik hujan itu adalah air matanya, pasti wajahnya akan tampak seperti senja yang sedang didatangi oleh hujan.

Perjalanan waktu begitu lambat menenggelamkan bayangan dan keinginanku untuk menyapa perempuan itu. Walau terpisah jarak hanya sejengkal tapi terasa begitu sulit rasanya untuk sekedar menyapa. Aku rekam diam-diam bayangannya dalam ingatan dan berharap suatu waktu ada jumpa yang tak pernah diduga. Enggan aku melepas tatapan mata pada senyum yang sesekali tersungging di bibir tipisnya. Apakah yang sedang dipikirkannya? Mengapa matanya begitu tampak indah? Bening, seperti telaga yang sepi di tengah belantara. Tampak begitu serasi dengan rintik hujan yang saling beradu. Berbagai pertanyaan tentang perempuan itu mencambukku dan semakin membuatku tak lagi mencumbu resah.

Perjalanan segera dimulai ketika senja dan malam beradu. Ada waktu yang setia menunggu kenangan yang akan tercatat. Sesekali waktu pula yang menyembunyikan riuh detak yang mengusir kebersamaan lalu menenggelamkannya dalam diam yang senyap

Hingga akhirnya waktu pulalah yang mempersilahkan aku menyapa dan memberi kesempatan menikmati sejuk di tepi telaga matanya. Satu persatu penumpang dalam bus itu turun tapi perempuan yang sejak tadi kuperhatikan tak juga beranjak dari tempat duduknya. Kebetulan macam apa ini yang ternyata menjadikan kami satu tujuan. Sampai akhirnya di terminal terakhir, iapun turun demikian pula aku. Lalu kami duduk di bangku ruang tunggu yang sama dan ia kemudian memberi senyum padaku, itu senyum pertama yan aku dapat tanpa harus kucuri. Tersungging tipis dan matanya semakin bersinar indah. Ya Tuhan perempuan macam apakah dia?

Ia mulai memperkenalkan diri. Dan aku membalas uluran tangannya “Lukman, ehm Adis mau ke mana?”. Padahal aku sedang mengatur ritme nafas yang mulai tak karuan. Mulutku tiba tiba kaku terbekap ragu. Tapi perempuan itu rupanya tahu apa yang sedang terjadi padaku. Lalu ia berusaha mencairkan suasana. “Perempuan ini rupanya pandai membaca” batinku. Dan akupun larut pada perbincangan kecil.

Adis, ya… nama perempuan bermata sebening telaga, yang memiliki senyum berbagai makna. Seorang perempuan pekerja keras, pengejar mimpi yang menyimpan luka dilekuk tawa ramahnya. Sedangkan aku laki laki yang sibuk berlari dari kesedihan dan menunjuk diri sebagai pengecut yang tak mau menerima kenyataan bahwa kekasihnya lebih memilih berlari mengejar mimpi.
********
Hanya beberapa hari kebersamaan yang aku lewati dengannya dan aku selalu menunggui hadirnya tawa milik Adis. Sesekali merengkuhnya dalam pelukanku agar aku dapat menghilangkan sedikit luka. Dan menjadi laki laki penikmat mata bening yang haus akan riuh kata kata yang terkadang sulit dipahami. Dalam waktu yang sangat singkat itu, tak juga kutemukan makna senyum yang selalu ia tawarkan. bahkan dikala aku bercerita tentang kisah yang buatku menyesakkan. Sedangkan dia tak pernah membiarkan dirinya membuka luka yang telah disimpan rapi dalam sebuah peti. Mungkin ini terasa begitu egois, tapi aku tak pernah tahu apa yang sedang terjadi.

Entah bagaimana perempuan berwajah syahdu itu dapat selalu menghiasi wajah dengan raut wajah manis. Tidak ada kerut, tidak ada sembab, tidak ada cerita sedih, baginya semua hanya ia katakan sebagai laku hidup. Pergantian hari terasa amat cepat, kebersamaan ini adalah sesuatu yang tak abadi. Tak pernah ada harapan atau mimpi yang dapat dijanjikan. Adis sangat paham bahwa aku dan dia tidak akan bisa selalu bersama. Tidak ada ucapan cinta atau sayang, hanya perasaan ganjil yang sangat tidak biasa. Aku merasakannya dalam kecupan kecupan kecil yang selalu berakhir dengan tarikan nafas disertai senyum khasnya. Hari tetaplah harus berganti, senja yang selalu menemani perjumpaan kamipun tetap akan bertarung dengan malam.

Perempuan itu tak pernah membahas hari esok, ia melewati hari dengan sangat biasa sedangkan aku semakin gelisah, ketakutan akan hampa akan segera menyergap. Esok atau entah kapan perpisahan menjadi bayangan yang menguntitku. Aku tersesat, masuk… semakin dalam. Entah berada dimana sekarang.

Belantara menjadi begitu gelap, tanpa petunjuk arah Ia berlarian mengibaskan gaun keperakkan yang menyilaukan. Seperti burung merak yang asyik menari, lalu menjadikannya sesat para pengembara. Lupa jalan pulang…!
*****
Keberanian macam apa yang akhirnya membuatku mengatakan bahwa aku nyaman berada disampingnya. Ada merah yang berlarian dipipinya. Senyum khas itu muncul lagi tapi tak ada lonjakan emosi, semua datar saja seperti hari-hari kemarin. Adis sepertinya juga semakin menikmati kebersamaan ini, walaupun ia telah tahu semua kisah cengeng yang masih belum terselesaikan. Dan perempuan itu berkata "Aku hanya sedang menikmati waktu yang ada."

Aku menjadi semakin khusyuk pada pertemuan-pertemuanku dengannya. Di sebuah bukit kecil menjelang senja aku dan dia selalu berbagi lelucon. Diam-diam aku merekam kenangan kecil di dalam ingatan, tapi perempuan itu malah mengingatkan "Jangan ada kenangan, prasasti, atau apapun. Kisah ini bukan untuk dikenang tapi hanya untuk dinikmati." Aku menjadi gusar apakah mungkin aku tidak mengingat ini. Sedangkan kepalaku semakin lama terisi dengan senyuman dan kata katanya yang terkadang tak pernah aku mengerti.

Awan yang gelap menjadi begitu terang ketika bulan yang merah menerawang menjelma menjadi bayangannya. Tak ada sekejap waktupun ingin menghardik tawa riuh ditengah badai yang disebut kita.

Disaat aku mulai tenggelam dalam tawa dia malah bersikap acuh. Membuatku terjaga pada segala kemungkinan. Tapi terkadang perempuan itu juga terbang bersama angin yang membuatnya merasa ringan lalu lupa untuk turun. Dan aku harus menjadi pemberatnya untuk membawanya kembali ketujuan semula. “Tanpa kenangan hanya sekedar kisah singkat untuk dinikmati.”
***********
Tiga minggu kebersamaan sangat begitu singkat buatku, aku larut dalam bayangan bahwa kisah ini akan berlanjut sampai aku dan dia kembali ke habitat semula. Dan aku membayangkan bahwa aku akan menemukan banyak kisah baru. Tapi rupanya waktu tak cukup punya kesabaran. Akhirnya waktupun yang menghancurkan keinginanku itu.

“Dis… perempuanku telah memilih kembali. Dan aku akan segera pulang.” setelah lelah mencari cara untuk menceritakan yang sebenarnya pada Adis. Akhirnya kalimat itu meluncur begitu saja. "Pulang" akhirnya kata kata ini menjadi pilihanku. Aku harus segera pulang untuk membenahi bangunan kisah yang hampir roboh. Ada rona terkejut di wajahnya tapi itu hanya sekejap. Ia cukup tahu bagaimana mengatur emosinya. Dan aku menjadi tenggelam dalam perkataanku sendiri. Aku masih menginginkan kebersamaan ini. Tapi apakah Perempuan ini bersedia? Tanyaku dalam hati. Aku peluk perempuan di depanku itu untuk memastikan bahwa dia baik baik saja dan aku juga ingin menentramkan kesedihanku sendiri.

Lalu ia melepas pelukannya dan menatap wajahku sejenak. Tatapannya begitu dingin membuatku beku di dalam matanya. Dan sekali lagi senyum yang tak pernah bisa kuartikan ia suguhkan padaku. Kali ini aku melihat riak kecil di telaga matanya, tapi entah bagaimana bisa tak ada ombak yang jatuh dipipinya. “Rupanya sudah tiba waktunya.” jawabnya hampir berbisik. Dan aku hanya mengangguk kecil entah dia tahu anggukanku atau tidak.

Lalu semua koyak ditelan badai yang mengamuk di tengah permainan nasib. Menjadi perang dengan desing peluru yang memantul ditengah tengah senyum yang ternyata semu. Menjadi karam ditelan ombak yang amuk digelitik luka di dasar laut.

Kemudian malam menjadi begitu hambar tanpa senyumnya lagi. Dan aku tak akan lagi bisa menunggu mata yang bening tergenang air mata. Pertemuan terakhir di sebuah malam dengan bulan merah dan hampir redup. Aku beranjak memunguti sisa sisa senyum yang tercecer di setiap kenangan tentangnya. Walaupun ia tak pernah menginginkan adanya kenangan ini, tapi biarlah aku menjadi pemulung nista yang lebur dimakan kata-kataku sendiri. Dan setidaknya aku bisa melihat telaga itu riuh di depanku.mr-kompas

Mengemis, Antara Tradisi dan Perjuangan Hidup

Mengemis, Antara Tradisi dan Perjuangan Hidup

Menjelang hari raya Idulfitri, pengemis mulai berdatangan ke Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Mereka datang dari berbagai daerah dan pelosok desa di Pamekasan, bahkan tidak sedikit dari luar kota Pamekasan. Seperti desa Jaddung kecamatan Pragaan kebupaten Sumenep.

Kedatangan mereka itu bukan hanya sendirian, tetapi secara berkelompok. Bedanya, para pengemis ini, tanpa komando pimpinan. Mereka hanya mengandalkan kekompakan karena senasib dan sepenanggungan.

Seolah sudah mengerti tempat-tempat yang harus didatangi, begitu sampai di sekitar monumen Arek Lancor Pamekasan, para pengemis yang umumnya dari kaum perempuan ini langsung memisahkan diri.

Ada yang mengemis di depan toko pakaian, supermarket, toko elektronik bahkan ada pula di depan ATM dan kantor pos. "Kalau bulan puasa dan mendekati hari raya lebaran seperti ini, hasilnya lumayan banyak pak," kata Sumi (58), pengemis asal desa Larangan Tokol kecamatan Tlanakan Pamekasan.

Pengemis yang biasa meminta-minta di depan toko Kurnia Farma jalan Jokotole ini mengaku, sejak bulan Ramadan ini pendapatannya dari mengemis meningkat. Jika sebelumnya hanya dalam kisaran Rp.5000 dalam sehari, saat ini mencapai Rp.10.000, hingga Rp.15.000 per-hari.

Hal yang sama juga diakui Marsiha, dari desa Bukek kecamatan Tlanakan Pamekasan. Meski tidak mengaku jumlah uang yang diperoleh dalam sehari, tapi perempuan berambut putih ini mengaku memang lebih banyak dibanding hari-hari biasanya. "Lumayan banyak dibanding biasanya. Soalnya banyak berbelanja," katanya.

Menunggu di depan toko dan supermarket sebagaimana dilakukan pengemis Sumi dan Marsiha, ternyata hanyalah salah satu cara para pengemis ini untuk mendapat rupiah yang lebih banyak mendekati hari raya Idulfitri.

Namun, tidak sedikit diantara mereka yang langsung datang ke rumah-rumah warga untuk mendapatkan uang lebih dalam menyambut hari raya Idulfitri nanti. Seperti yang diakui Lilik (24) warga desa Murtajih, kecamatan Pademawu Pamekasan.

Sejak memasuki hari ke-10 bulan Ramadan, tidak kurang dari lima orang pengemis datang ke rumahnya dengan berbagai jenis kelamin. Baik laki-laki ataupun perempuan. "Jam 8 pagi itu sudah ada orang yang panggil salam ke rumah. Pokoknya hilir-mudik secara bergantian, sejak bulan Ramadan. Apalagi mendekati lebaran. Itu sudah biasa sejak dulu," katanya.

Banyaknya para pengemis yang datang ke pusat-pusat perbelanjaan di Pamekasan menjelang hari raya Idulfitri ini, karena mereka menganggap di kota bisa mendapatkan rupiah lebih dibanding tempat-tempat lain dimana bisanya mereka meminta minta.

Seperti diakui Salimin, pengemis asal desa Proppo Pamekasan. "Biasanya setiap hari saya di pesarean Batuampar di Proppo. Tapi sekarang di sana sepi pengunjung. Makanya kami ikut teman-teman ke sini".

Terpaksa Demi Sesuap Nasi

Mengemis sebagaimana dilakukan Sumi, Marsiha dan Salimin, terpaksa ia lakukan. Selain karena sudah tidak memiliki lahan untuk bertani, usia dan sudah tua tanpa sanak famili menjadi alasan utama mereka berbuat seperti itu.

Sumi, misalnya. Di usianya yang sudah mendekati senja itu, ia hanya hidup sebatang kara di desa Larangan Tokol kecamatan Tlanakan.

Kondisi ekonomi yang serba kekurangan ditambah lagi anak cucunya dan merantau sejak puluhan tahun lalu dan hingga kini tidak pernah kembali membuat ia nekat menjadi seorang peminta-minta.

Di bawah gubuk berukuran 3x3 meter yang menjadi tempat tidur yang sekaligus dapurnya itu Sumi menjalani sisa hidupnya. "Kalau saya memiliki lahan untuk bertani saja, mengapa saya harus mengemis. Ini semua karena terpaksa saya lakukan," katanya.

Untuk menjadi buruh tani sebagaimana tetangganya, Sumi mengaku hal itu tidak mungkin ia lakukan karena tenaganya sudah tidak kuat seperti dulu lagi. "Kalau saja ada yang mengajak menjadi kuli, saya mau saja. Tapi siapa yang mau mempekerjakan orang tua seperti saya ini," tuturnya.

Mengemis karena tradisi

Alasan mengemis seperti yang disampaikan Sumi, mungkin menjadi pembenaran bagi seseorang menjadi peminta-minta. Tapi tidak semua pengemis memiliki alasan yang sama. Ada pula karena faktor tradisi atau kebiasaan.

Seperti yang disampaikan Mustain, warga desa Jaddung kecamatan Pragaan kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur. "Saya termasuk anak yang beruntung. Karena kedua orang tua mau memondokkan saya di pondok pesantren. Kalau tidak maka saya akan sama dengan tetangga menjadi pengemis," katanya.

Menurut dia, di wilayah kecamatan Pragaan kabupaten Sumenep itu mengemis bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, tapi sudah menjadi tradisi secara turun temurun.

"Saya tidak tahu bagaimana asal mulanya. Yang saya ingat sejak kecil, di rumahku itu mengemis sudah menjadi kebiasaan. Mereka bukan karena tidak mampu, tapi justru banyak yang mampu, juga mengemis dengan berbagai alasan," katanya.

Bahkan, kata Mustain, di desa Jaddung kecamatan Pragaan itu ada tradisi seorang menantu harus mengemis minimal selama tiga bulan sebelum memiliki anak keturunan. Mereka tidak hanya mengemis di wilayah kabupaten Sumenep, tapi tiga kabupaten lain di Madura, seperti Pamekasan, Sampang dan wilayah kabupaten Bangkalan.

Di Pamekasan, pengemis pendatang dar luar kabupaten umumnya memang mengaku dari wilayah Pragaan kecamatan Pragaan. Mareka bukan hanya kaum tua, tapi banyak punya masih muda dan kuat bekerja. "Bagi kami fenomena semacam ini sudah menjadi penyakit sosial di masyarakat yang perlu segera diselesaikan. Sebab jika dibiarkan tradisi malas dengan mengemis ini nantinya justru akan berkembang pesat di Madura," kata ketua organisasi kepemudaan yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pamekasan Sulaisi Abdurrazak.

Menurut anggota komisi D DPRD Pamekasan Khairul Kalam, selama ini Pemkab memang belum memperhatikan secara serius tentang fenomena mengemis karena menganggap hal itu sudah biasa. Tapi ke depan, menurut Khairul, mereka perlu mendapat perhatian khusus. "Saya rasa perlu ada semacam pembinaan ke depan. Memang sebagian diantaranya itu karena terpaksa. Tapi kenyataannya tidak sedikit para pengemis itu karena malas. Dan ini perlu ada koordinasi intensif antara Pemkab di Madura," katanya.

Menurut dia, fenomena mengemis bukan hanya di Pamekasan dan Sumenep tapi sudah merambah hampir semua kabupaten di Madura.mr-kompas

Ribuan Obor Pedamaian Bakal Terangi Bajra Sandhi

Ribuan Obor Pedamaian Bakal Terangi Bajra Sandhi

Sedikitnya 10 ribu obor dan lilin perdamaian akan dinyalakan dan diusung mengelilingi monumen perjuangan rakyat Bajra Sandhi, di Lapangan Puputan Renon, Denpasar.

Pengusungan obor dan lilin menyala disertai bendatang kain putih menyerukan perdamaian untuk dunia itu, akan dilakukan 12 Oktober mendatang berkenaan dengan enam tahun tragedi ledakan bom di Kuta, 12 Oktober 2002, kata Sudiarta Indrajaya, ketua panitia kegiatan bertajuk Gema Perdamaian, di Denpasar, Sabtu.

Ia mengungkapkan, pengusungan obor yang juga disertai kumandang doa sesuai kepercayaan dan agama mereka masing-masing itu, akan dilakukan sedikitnya oleh 10.000 umat lintas agama dan etnis yang datang dari berbagai daerah, bahkan sejumlah negara lain.

Demikian juga dengan turis asing yang sedang berada di Bali, akan diminta untuk ikut terlibat dalam kegiatan Gema Perdamaian dua enam tahun meletusnya bom Bali 2002.

Saat kegiatan mengelilingi monumen sebanyak tiga kali itu dilakukan, di kawasan tempat kegiatan akan juga ditayangkan pesan-pesan perdamaian dari sejumlah tokoh di dunia, ucapnya.

Selain itu, dalam semarak nyala lilin dan gema doa itu juga akan diseligi dengan serangkaian seni tari dan tebabuhan musik tradisional Bali, bahkan penampilan khusus seni rudat dari kelompok seniman muslim Pulau Dewata.

Sudiarta menyebutkan, kegiatan yang diprakarsai sejumlah kalangan atau organisasi yang bergerak di bidang kepariwisataan tersebut, sesungguhnya tidak dimaksudkan untuk mengenang atau mengingat-ingat tragedi yang sempat merenggut ratusan korban tewas dan luka-luka itu.

Kegiatan yang mengambil momentum ledakan bom tersebut, dimaksudkan untuk lebih menjalin kebersamaan antarberbagai etnis dan agama yang ada di dunia, guna terciptanya perdamaian yang abadi, ucapnya.

Penyelenggaraan Gema Perdamaian kali ini merupakan yang keenam kalinya digelar di tempat yang sama, namun dengan materi penyajian yang sedikit berbeda.mr-kompas

Punahnya Tradisi Ting Selikuran

Punahnya Tradisi Ting Selikuran

radisi masyarakat di desa-desa sekitar Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, dan sekitarnya untuk menyalakan lampu ting setiap malam "selikuran" (Malam hari ke-21 bulan Ramadan,red) telah punah.

"Kalau dulu masyarakat Borobudur selalu memasang ting setiap malam selikuran di depan rumahnya," kata penggerak kesenian dan tradisi masyarakat sekitar Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Sucoro, di Borobudur, Sabtu (20/9) malam.

Masyarakat di berbagai desa memasang ting selikuran dengan cara digantung di depan rumah masing-masing pada malam selikuran. Setiap ting dihiasi dengan kertas aneka warna dan berbagai bentuk seperti kotak, bulat, bentuk kapal, ikan, dan buah-buahan.

Ia mengatakan, ting selikuran juga di pasang di tepi dan persimpangan jalan desa sehingga tampak suasana sakral pada saat tujuh hari sebelum Lebaran.

Kemungkinan, katanya, tradisi ting selikuran itu bagian dari upaya Sunan Kalijaga, salah satu di antara sembilan wali sanga yang menyebarkan agama Islam di Jawa, pada masa lampau, untuk dakwah.

Tradisi itu, katanya, telah punah mulai era 1970-an. "Mungkin karena di desa-desa mulai ada program listrik masuk desa sehingga masyarakat meninggalkan lampu minyak, termasuk ting," kata Sucoro yang juga pengelola Komunitas "Warung Info Jagad Cleguk", yang terdiri atas kalangan seniman rakyat dari desa-desa di sekitar Candi Borobudur itu.

Ia mengemukakan, ting sebagai kata pelesetan dari "tingalono" (Lihatlah, red). "Maksudnya supaya orang hidup itu melihat diri, introspeksi, dan melihat ke depan dengan optimis," katanya.

Budayawan Magelang, Soetrisman, membenarkan pada malam selikuran masyarakat di desa-desa di Magelang dan sekitarnya menyalakan ting berhias kertas aneka warna dan bentuk di depan rumahnya sehingga muncul suasana sakral di lingkungan tempat tinggal mereka. "Mungkin antara 1950 hingga 1960 mulai kelihatan tradisi itu hilang, diduga karena pengaruh adanya listrik. Sebelum tahun-tahun itu suasana malam selikuran terkesan magis, ada kekuatan spiritual karena ada lampu-lampu redup dan sinarnya samar-samar menghiasi depan rumah warga," katanya.

Beberapa hari sebelum malam selikuran, katanya, relatif lebih banyak pedagang ting di pasar-pasar dan di jalan-jalan. Masyarakat juga banyak yang membuat ting sendiri untuk tradisi malam selikuran.

Soetrisman yang juga pengajar sastra di Universitas Tidar Magelang dan Universitas Muhammadiyah Purworejo itu menyatakan tidak menyangka tradisi ting selikuran yang unik pada masa lampau bakal hilang oleh perkembangan modernisasi.

Tradisi ting selikuran, katanya, perlu dihidupkan antara lain karena bisa membantu perekonomian dan industri kerakyatan, mendidik masyarakat untuk peka terhadap pentingnya melestarikan lingkungan, mempromosikan penggunaan bahan nonplastik, dan hemat energi. "Itu bisa menghidupkan ekonomi kerakyatan, kepekaan lingkungan karena ting bisa dihias dengan kertas aneka warna dan dibentuk sesuai dengan potensi lingkungannya seperti bentuk ikan menunjukan potensi perikanan di desanya, secara kultural supaya budaya plastik tidak merajai kehidupan masyarakat,"mr-kompas

Ikan Paus Sering Mampir ke Gunung Kidul

Ikan Paus Sering Mampir ke Gunung Kidul
Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, yang terletak di pesisir selatan Pulau Jawa menyimpan sejumlah potensi wisata pantai. Setelah Pantai Baron, Krakal, dan Kukup, mulai populer, ada satu pantai lagi yang keindahannya masih tersembunyi. Pantai Panggang namanya. Pantai ini memiliki keindahan panorama laut berupa palung yang airnya jernih sehingga satwa laut terlihat jelas.


"Palung laut setempat sering menjadi tempat singgah ikan besar seperti paus tutul, hiu maupun lumba-lumba. Namun, untuk menikmati keindahan di dalam laut itu harus dilihat dari tebing curam setinggi 100 meter dari dasar pantai," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) DIY Bambang Wibowo di Yogyakarta, Jumat (19/9).

Menurut dia, kawasan tersebut ditemukan secara tidak sengaja oleh tim KTNA DIY yang sedang membina para nelayan kawasan pantai Panggang, Gunungkidul. Mereka mengatakan di kawasan laut setempat sering dijadikan tempat pertemuan ikan-ikan besar.

"Para pemancing tradisional yang sering memancing dari tebing itu juga sering melihat sejumlah ikan besar berkumpul di kawasan laut tersebut," katanya.

Karena itu, menurut dia, apabila kawasan laut setempat dijadikan obyek wisata, diyakini akan disukai wisatawan.

Ia mengatakan kawasan laut dengan panorama seperti itu diyakini merupakan satu-satunya di sepanjang pantai selatan DIY. "Sehingga jika dibangun sarana dan prasaran wisata, kawasan tersebut bisa dimasukkan ke daftar wisata minat khusus," katanya.

Menurut dia, sayangnya guna menuju kawasan itu tidak mudah, dan untuk bisa melihat satwa laut harus dari atas tebing yang cukup tinggi.mr-kompas

Ikan Paus Sering Mampir ke Gunung Kidul

Ikan Paus Sering Mampir ke Gunung Kidul
Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, yang terletak di pesisir selatan Pulau Jawa menyimpan sejumlah potensi wisata pantai. Setelah Pantai Baron, Krakal, dan Kukup, mulai populer, ada satu pantai lagi yang keindahannya masih tersembunyi. Pantai Panggang namanya. Pantai ini memiliki keindahan panorama laut berupa palung yang airnya jernih sehingga satwa laut terlihat jelas.


"Palung laut setempat sering menjadi tempat singgah ikan besar seperti paus tutul, hiu maupun lumba-lumba. Namun, untuk menikmati keindahan di dalam laut itu harus dilihat dari tebing curam setinggi 100 meter dari dasar pantai," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) DIY Bambang Wibowo di Yogyakarta, Jumat (19/9).

Menurut dia, kawasan tersebut ditemukan secara tidak sengaja oleh tim KTNA DIY yang sedang membina para nelayan kawasan pantai Panggang, Gunungkidul. Mereka mengatakan di kawasan laut setempat sering dijadikan tempat pertemuan ikan-ikan besar.

"Para pemancing tradisional yang sering memancing dari tebing itu juga sering melihat sejumlah ikan besar berkumpul di kawasan laut tersebut," katanya.

Karena itu, menurut dia, apabila kawasan laut setempat dijadikan obyek wisata, diyakini akan disukai wisatawan.

Ia mengatakan kawasan laut dengan panorama seperti itu diyakini merupakan satu-satunya di sepanjang pantai selatan DIY. "Sehingga jika dibangun sarana dan prasaran wisata, kawasan tersebut bisa dimasukkan ke daftar wisata minat khusus," katanya.

Menurut dia, sayangnya guna menuju kawasan itu tidak mudah, dan untuk bisa melihat satwa laut harus dari atas tebing yang cukup tinggi.mr-kompas

Memasuki Masa Lalu

Memasuki Masa Lalu

TAK banyak orang mengenal eksotisme alam di wilayah perbukitan kota Temanggung. Tak banyak pula yang menaruh perhatian pada penggalan sejarah Jawa kuno berwujud bangunan dan prasasti, tanda yang senantiasa mengundang dialog dengan masa lalu.

Kami memasuki bangunan gerbang tua yang menyerupai candi dan corak arsitekturnya mirip bangunan peninggalan Kerajaan Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur. Tempat itu terletak di wilayah agak mendatar, tertutup pohon-pohon besar. Satu-dua kera mendekat seperti mengawasi.

Itulah gerbang utama menuju Umbul Jumprit, mata air yang disucikan. Air umbul (sendang, mata air) adalah air keberkahan yang diambil para biksu dengan ritual khusus untuk digunakan dalam upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur. Umbul yang tak pernah kering ini juga "mengisi" Sungai Progo.

Jalan menuju umbul teduh dan sunyi. Kira-kira 30 meter dari gerbang utama berdiri patung Hanoman (kera sakti dalam kisah Ramayana) di depan gerbang kedua yang harus dilewati untuk mencapai umbul. Mata air itu terletak di bawah goa, dilindungi pohon tua yang sangat besar, bersulur-sulur. Matahari tidak bisa menembus kerimbunannya.

"Kalau mau airnya, saya ambilkan langsung dari umbul," ujar Muhtasori, petugas di situ. Ia berjalan pelan mendekat ke goa, menundukkan kepala sejenak, membungkukkan badan, dan terlihat hati-hati memasukkan air ke mulut botol. Air itu terasa sangat dingin dan jernih.

Muhtasori mengatakan, banyak orang datang ke umbul pada hari-hari tertentu, khususnya pada malam tanggal 1 Sura, untuk bermeditasi dan mandi. Biasanya dilakukan selewat tengah malam. "Dulu tak banyak orang tahu tempat ini," ia melanjutkan, "Pengunjung mulai berdatangan pada 1980-an. Ada orang Jerman yang beberapa kali ke sini."

Petilasan Jumprit disebut dalam Serat Centhini, karya sastra para pujangga Jawa tahun 1815, terutama dikaitkan dengan legenda Ki Jumprit.

"Menurut cerita, beliau adalah ahli nujum dari Majapahit. Namun, juga ada yang bilang, beliau putra Raja Majapahit, Prabu Brawijaya," tutur Muhtasori, "Beliau pergi dari keraton, bertapa, ditemani seekor monyet bernama Seta. Monyet-monyet di sini keturunan Seta. Jumlahnya sekarang sekitar 20-an."

Kebenaran cerita itu boleh saja dipertanyakan. Akan tetapi, memperlakukan umbul dengan penuh hormat, seperti dilakukan Muhtasori, adalah keharusan.

Merawat mata air adalah merawat kehidupan. Umbul Jumprit tak hanya terkait dengan legenda masa lalu. Ia menghadapi tantangan kontekstual, dengan kehidupan sebagai pertaruhan. Dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 mengenai Sumber Daya Air, orang-orang rakus mendapat "restu" untuk menguasai mata air di berbagai pelosok Bumi Pertiwi ini.mr-kompas

Tiga Ekor Lumba-lumba Terdampar di Brebes

Tiga Ekor Lumba-lumba Terdampar di Brebes

Tiga ekor lumba-lumba terdampar di pantai Randusanga Indah, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Kamis (18/9) sekitar pukul 15.00. Satu diantaranya akhirnya mati karena sakit. Hingga Jumat (19/9) siang, dua lumba-lumba yang masih tersisa dibiarkan berada di kolam becak air, dan menjadi tontonan warga.

Ketiga lumba-lumba tersebut ditemukan oleh warga sekitar yang biasa berjualan di Pantai Randusanga Indah, Dakram (35) dan Sapin (35). Menurut Dakrim, saat itu ia hendak menata dagangan di warungnya.

Tiba-tiba ia melihat satu ekor lumba-lumba terdampar di pantai sebelah timur dan dua lainnya terdampar di pantai sebelah barat. Setelah didekati, ketiga lumba-lumba itu terlihat tidak sehat. Bahkan satu lumba-lumba yang terdampar di pantai sebelah timur, mengalami luka di bagian mulut.

Bersama dengan Sapin, ia membawa ketiga lumba-lumba itu ke dalam kolam yang biasa digunakan untuk mainan becak air, seluas sekitar 5.000 meter persegi. Satu ekor lumba-luma yang sakit akhirnya mati satu jam kemudian dan dikuburkan di kawasan pantai tersebut.

Menurut Dakrim, lumba-lumba itu memiliki berat lebih dari 40 kilogram, dengan panjang sekitar 1,5 meter. Untuk sementara, warga bersama-sama menjaga keberadaan hewan air tersebut. "Sampi saat ini kami sudah dua kali memberi makan lumba-lumba itu dengan pirik (ikan kecil-kecil)," ujarnya.

Ia berharap agar pemerintah segera bertindak untuk melindungi kedua hewan itu. Apabila dibiarkan, dikhawatirkan kedua lumba-luma itu akan mati. "Selain airnya keruh, di dalam kolam itu terdapat tonggak-tonggak bambu yang terpasang melingkar di bagian tengah. Lumba-lumba itu dapat terjepit diantara bambu," katanya.

Kepala Kantor Informasi dan Kehumasan Kabupaten Brebes, Mayang Sri Herbimo mengatakan, pemerintah sedang membahas beberapa opsi terkait temuan lumba-lumba itu. Tindakan utama yang saat ini dilakukan yaitu menjaga agar kedua hewan tersebut tetap hidup, dengan memperbaiki kualitas air dalam kolam.

Selanjutnya, apabila memang keduanya dapat bertahan di tempat itu, pemerintah akan mengurus perizinan dan menjadikannya sebagai bagian kekayaan wisata Pantai Randusanga Indah. "Namun apabila tidak memungkingkan, kedua hewan itu akan dilepas kembali ke laut . Yang penting ikan hidup dulu,"mr-kompas

Indonesia Punya 270.000 PSK dengan Pelanggan 10 Juta Orang

Indonesia Punya 270.000 PSK dengan Pelanggan 10 Juta Orang
Masalah kesehatan di Indonesia semakin kompleks dan berat dengan suburnya jumlah penderita HIV/AIDS. Sejak kasus pertama ditemukan pada 1987 angka kejangkitan terhadap penyakit ini terus meningkat.
"Bahkan, lima tahun terakhir ini kenaikannya sangat tajam. Walau secara keseluruhan Indonesia masih merupakan negara dengan prevalensi rendah, Indonesia mempunyai potensi menjadi epidemi karena faktor risiko tinggi," kata Budi Laksono, Medical Doctor, Master Of Reproductive Health President Rotary Club Semarang di Semarang, Sabtu (20/9).

Ia menjelaskan, UNDP mengestimasikan, pada 2003 di Indonesia terdapat 190.000-270.000 pekerja seks komersial dengan 7-10 juta pelanggan. Sementara itu, penggunaan kondom di bawah 10 persen (sekitar 5,8 persen).

Faktor risiko tersebut adalah dua hal yang menjadi penyebab tingginya penularan HIV/AIDS, yaitu hubungan seksual yang tidak sehat dan penggunaan jarum suntik bersama oleh para pengguna narkoba.

Pusat Penelitian Badan Narkotika Nasional dan Puslitkes Universitas Indonesia (2004) mencatat, 3,2 juta masyarakat Indonesia menggunakan narkoba. Dari jumlah ini kelompok pecandu dan penggunaan heroin suntik meliputi 62 persen.

Sementara itu, kematian disebabkan oleh HIV/AIDS pada 2004 diestimasikan sekitar 5.500 orang. Umumnya, kematian diderita mereka pada usia produktif, umumnya keluarga mulai dibangun.

Penularan HIV/AIDS sangat rawan terhadap pasangan hidup dan juga anak. Selain memunculkan problem sosial keluarga baru, kondisi ini juga menyebabkan penurunan produktivitas bangsa secara umum.

Sejak penyakit HIV/AIDS diidentifikasikan pada 1983, HIV/AIDS telah menjadi pandemi dan problem kesehatan utama di dunia hingga saat ini.

WHO pada 2003 mengestimasikan, 37,8 juta orang terinfeksi HIV/AIDS. Pada tahun 2005 akhir estimasi menjadi 53,6 juta (UNAIDS report 2006). Pada 2007 estimasi menggunakan perhitungan baru dengan jumlah 33 juta, tetapi yang sudah meninggal 23 juta orang (UNAIDS report 2008).

Mengenai infeksi baru per tahun meningkat dratis dari 4 juta menuju 8 juta. Angka kesakitan tidak pernah menurun karena tidak ada penyembuhannya, penurunan angka kejadian terjadi karena kematian.

"Kematian yang disebabkan HIV/AIDS sudah menjadi penyebab utama kematian di banyak negara. Kondisi Ini memperparah kesakitan dan kematian karena infeksi yang masih menjadi problem besar di sebagaian besar negara di dunia," katanya.

Upaya pecegahan penularan telah dilakukan di seluruh dunia. WHO telah memelopori dengan menyusun strategi manajemen yang diharapkan bisa diaplikasikan di seluruh negara dengan melibatkan stakeholder (pihak terkait) secara terpadu, komprehensif, dan terus menerus .

WHO menyatakan untuk penularannya, Indonesia masih termasuk dalam kriteria not under control. Hal ini disebabkan kampanye perubahan perilaku dalam mencegah HIV/AIDS belum signifikan.

Walau dalam tataran kebijakan nasional, katanya, pemerintah, dalam hal ini Menkokesra, telah membuat strategi yang komprehensif, kenyataan pelaksanaan di lapangan masih belum signifikan. "Hal ini menunjukkan pentingnya pengelolaan HIV/AIDS yang cepat, terpadu, dan komprehensif. Bahkan, pendidikan perilaku sehat sudah waktunya dilakukan di semua lini, termasuk dunia kerja,mr-kompas

Inilah Lima Kekeliruan Berpikir Penolak RUU Pornografi

Inilah Lima Kekeliruan Berpikir Penolak RUU Pornografi

Para penolak RUU Pornografi paling tidak telah melakukan lima kekeliruan berfikir yang cukup fatal. Akibatnya, argumentasi yang sering diungkapkan adalah RUU Pornografi akan melarang dan menciderai budaya dan tradisi yang hidup di masyarakat.

Hal Ini disampaikan anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Al Muzzammil Yusuf di Jakarta, Kamis (18/9). "Pertama, penolakan RUU Pornografi itu melupakan nilai-nilai agama yang diagungkan oleh Pancasila, Ke-Tuhanan Yang Maha Esa, yang juga berarti mengagungkan aturan moral luhur yang diajarkan agama," ujarnya.

Kedua, mereka yang menolak RUU Pornografi itu juga melupakan amanat UUD 45, pasal 31 ayat 3 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan iman, taqwa, dan akhlaq mulia, dalam rangka pencerdasan bangsa.

Ketiga, para penolak RUU Pornografi itu meremehkan upaya penyelamatan generasi muda dan anak-anak, karena fakta menunjukkan siapapun pelakunya, apapun bentuk pornografinya, yang paling dirugikan adalah remaja dan anak-anak. "Mereka itu belum siap berdemokrasi, karena mereka tidak menghormati proses panjang wakil rakyat yang mendiskusikan RUU ini. Bahkan, panja sudah banyak bertoleransi mengurangi dan menyesuaikan RUU dengan aspirasi yang masuk, tapi seakan-akan RUU itu baru bagus kalau seluruh ide mereka yang diterima," ujarnya.

Kelima, para penolak RUU lebih terinspirasi dan mewakili ide kebebasan Barat, yang jelas-jelas telah gagal melindungi masyarakatnya dari bahaya pornografi.mr-kompas

Hizbut Tahrir Indonesia Kritik RUU Pornografi

Hizbut Tahrir Indonesia Kritik RUU Pornografi

Tak hanya 'orang luar' saja yang mengkritik rencana disahkannya rancangan undang-undang (RUU) Pornografi. Secara resmi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) juga melakukan kritik terhadap RUU ini yang dianggap keluar dari konteksnya. Hal ini diungkapkan oleh juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto kepada para wartawan, Kamis (18/9) di DPR.

"Rencananya DPR akan mengesahkan RUU Pornografi menjadi undang-undang. RUU ini memang sudah lama dinantikan (lebih dari 10 tahun sejak dirancang pada tahun 1997). Harapannya, dengan terbitnya UU ini, pornografi yang sudah terlanjur demikian marak di negeri ini bisa dihilangkan. Akan tetapi bila dicermati, harapan itu agaknya tidak secara otomatis bisa tercapai,"ujarnya.

Ia kemudian memberikan alasan, materi dalam RUU tersebut banyak mengandung kelemahan. Mislanya menyangkut batasan pornografi pada Pasal 1 ayat 1 yang rancu antara pornografi yang dilarang dan yang dibolehkan pada Pasal 13 ayat 1.Bahkan beberapa bagiannya (Pasal 13 ayat 2) bisa dianggap memberi jalan bagi berkembangnya pornografi itu sendiri.

Dari sisi substansi, lanjut Ismail, penghapusan kata "Anti " pada judul RUU, yang semula RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi, memberi kesan, bahwa RUU ini hanya akan mengatur bukan menghapus pornografi.

"Jadi, alih-alih pornografi akan lenyap, dengan terbitnya RUU Pornografi ini, malah mungkin pornografi dan pornoaksi akan berkembang dengan berlindung pada diktum "kebolehan pornografi di tempat dan cara khusus" atau atas nama seni dan budaya (Pasal 14)," tukasnya.

Ismail kemudian memberikan beberapa catatan penting terkait kritik yang diberikan atas RUU Prornografi ini. Kritik utama atas RUU Pornografi ini adalah ketidakjelasan basis teologis yang digunakan oleh RUU ini. RUU ini mencoba mengatur masalah pornografi untuk seluruh masyarakat Indonesia yang pada faktanya mememeluk ragam agama.

"Padahal masalah pornografi dalam beberapa bagian atau seluruhnya, seperti menyangkut masalah pakaian, sangat terkait dengan keyakinan seseorang. Misalnya, pakaian seorang Muslim tentu berbeda dengan pakaian seorang Hindu. Dengan demikian aspek pornografitasnya pun juga mestinya berbeda," terangnya.

Ketelanjangan bahu bagi seorang perempuan Hindu mungkin tidak masalah karena memang demikianlah ketentuan peribadatan di dalam pura mereka, tapi tidak demikian halnya dengan seorang Muslimah. Karena tidakjelasnya basis teologis yang digunakan, definisi tentang pornografi dalam RUU ini juga menjadi kabur," katanya lagi.

Tegas dikatakan, bila pornografi adalah materi seksualitas yang melanggar nilai-nilai kesusilaan masyarakat yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, masyarakat yang mana? "Bila sejak definisi pornografi sudah kabur, maka tentu pengaturan berikutnya juga menjadi tidak jelas," tukasnya.

Adanya ketidakjelasan seperti inilah yang mengung reaksi khususnya dari komunitas non-Muslim di Bali maupun daerah lain. Dengan anggapan, khawatir RUU ini akan mengeliminir sebagian keyakinan mereka.

"Akan berbeda halnya bila RUU semacam ini dibuat berdasarkan ketentuan syariah. Maka definisi tentang pornografi dengan mudah dibuat. Dan pasti tidak akan menyinggung agama lain, karena masalah-masalah yang terkait dengan keyakinan dikembalikan kepada agama masing-masing, " ujar Muhammad Ismail Yusanto.

"Baik yang berkaitan dengan tataperibadatan maupun berpakaian. Di sinilah pentingnya penerapan syariah bagi masyarakat. Syariah akan memberikan pengaturan tentang berbagai hal secara jelas, tegas dan konsisten untuk seluruh masyarakat. Sekaligus, tetap menghargai adanya perbedaan akibat perbedaan keyakinan agama. Dengan cara itu, kerahmatan yang dijanjikan dari penerapan syariah itu bisa diujudkan," Ismail mengharapkan.mr-kompas

Ternak Kambing Akrabkan Islam-Hindu di Bali

Ternak Kambing Akrabkan Islam-Hindu di Bali

Angin berembus tidak begitu kencang di bawah pohon kopi daerah pegunungan Busungbiu, perbatasan antara Kabupaten Buleleng dan Tabanan, menambah keakraban tiga-empat petani yang beristirahat setelah menikmati santap siang.

Mereka beristirahat setelah membersihkan sela-sela tanaman kopi, berdiskusi kecil untuk bersama-sama mencari alternatif meningkatkan pendapatan, di tengah kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan, yakni semakin "meroketnya" harga-harga kebutuhan bahan pokok.

Petani dalam satu kelompok diskusi kecil yang berbeda latarbelakang agama dan kepercayaan, yakni Islam dan Hindu itu mengadakan dialog secara terbuka untuk pengembangan ternak kambing, sebagai alternatif meningkatkan pendapatan.

Keinginan petani kopi di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, 110 km barat laut Denpasar untuk mengembangkan ternak kambing mendapat respon positif dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali dan Dinas Peternakan setempat, tutur Ketua MUI Bali Haji Ahmad Hasan Ali (75).

Pria kelahiran Palembang, 19 Pebruari 1993 yang telah menetap di Bali hampir selama setengah abad itu merespon keinginan petani kopi untuk mengembangkan ternak kambing, karena usaha tersebut mempunyai prospek cerah.

Selain meningkatkan kesejahteraan petani, juga akan mampu menyediakan matadagangan kambing dalam jumlah yang memadai yang selama ini selalu didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur maupun Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama untuk memenuhi kebutuhan Idul Adha bagi umat Muslim setempat.

Ir Suprio Guntoro dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, segera melakukan penelitian terhadap kemungkinan pengembangan ternak kambing di sejumlah desa-desa di Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng.

Penelitian yang dilakukan tahun 2004 itu menunjukkan, lahan di bawah tanaman kopi sangat baik untuk pengembangan ternak kambing yang sanggup meningkatkan pendapatan petani dua kali lipat setiap tahunnya, dibandingkan hanya membudidayakan kopi.

Melihat hasil penelitian tersebut, MUI Bali dengan dukungan Dinas Peternakan setempat langsung menggandeng Yayasan Sahabat Bali untuk membantu bibit ternak kambing guna dikembangkan masyarakat tani di bawah pohon kopi.

"Keterpaduan pemeliharaan ternak kambing-kopi dirintis sejak awal 2005 yang ternyata telah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, di samping lebih meningkatkan keakraban umat Islam-Hindu di Bali," tutur pensiunan pegawai Bimas Islam Kanwil Departemen Agama Propinsi Bali itu.

Suami dari Hj Ni Massalma yang tampak sehat bugar di usia senjanya itu, mengaku telah beberapa kali melihat dari dekat usaha peternakan kambing di bawah pohon kopi yang ditekuni ribuan petani Desa Sepang, Tista dan desa Sekitar Kecamatan Busungbiu.

Keterpaduan pemeliharaan kambing dan tanaman kopi yang dirintis petani Busungbiu sejalan dengan upaya MUI Bali mengembangkan dialog dan memantapkan kerjasama lintas agama, sebagai upaya memantapkan kerukunan yang selama ini mesra dan harmonis, hidup berdampingan satu sama lainnya.

Agama Islam masuk wilayah Kabupaten Buleleng, bekas pusat ibukota Sunda Kecil yang wilayahnya meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, pada tahun 1587 dibawa oleh tiga orang umat Islam dari Jawa yang menjadi pengantar gajah hadiah Dalem Solo.

Pusat Islam tertua di Bali utara menurut Ketut Ginarsa dan Suparman Hs yang ikut menyusun buku sejarah masuknya agama Islam ke Bali, adalah Banjar Jawa yang kemudian menyebar ke daerah sekitarnya antara lain Pegayaman.

Berlipat Ganda

Ir Suprio Guntoro yang telah melakukan penelitian dan pengkajian terhadap keterpaduan pemeliharaan ternak kambing-tanaman kopi di Kecamatan Busungbiu mengatakan, selain meningkatkan keabraban petani juga mampu meningkatkan pendapatan berlipat ganda.

Petani yang memelihara satu hektar tanaman kopi, awalnya hanya berpenghasilan Rp10 juta per tahun. Namun dengan memelihara sepuluh hingga 12 kambing induk pendapatannya bertambah menjadi Rp21 juta setiap tahunnya atau dua kali lipat.

Petani desa untuk meraup penghasilan yang lumayan besar itu tidak perlu susah-susah mencari hijauan pakan ternak untuk kambing piaraannya. Rumput yang tumbuh dan daun dadap sebagai tanaman peneduh menjadi makanan kambing sehari-hari.

Kambing induk yang dipelihara itu setiap dua tahun mempunyai tiga anak, sehingga 12 ekor induk setiap tahun akan beranak 18 ekor. Setelah dipelihara delapan-sembilan bulan, laku seharga Rp 1 juta/per ekor.

Kambing jenis peranakan ettawa (unggul) itu selain dagingnya gurih juga menghasilkan susu yang dapat memberikan nilai lebih.

Dampak positif lainnya yang dapat dinikmati petani, adalah kemudahan tidak membeli pupuk untuk menyuburkan tanaman kopi, karena bisa memanfaatkan kotoran maupun air kencing kambing ternak piaraan.

Pemupukan lahan kopi seluas satu hektar, petani perlu pemeliharaan ternak kambing 10 hingga 12 ekor. Hal itu sudah dilakukan petani kopi di Desa Sepang dan Desa Tista. "Berkat keterpaduan pemeliharaan ternak kambing-tanaman kopi, sekaligus mampu meningkatkan populasi kambing di Bali," tutur Guntoro.

Populasi kambing di Bali tercatat 100.000 ekor, dinilai masih kurang, mengingat untuk memenuhi kebutuhan masih didatangkan dari daerah tetangga Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Pengembangan ternak kambing menurut Kepala Dinas Peternakan Propinsi Bali Ir Ida Bagus Ketut Alit, hanya dilakukan di daerah-daerah tertentu, berbeda halnya dengan pemeliharaan babi dan sapi yang hampir merata di pelosok pedesaan Bali.

Ke depan pengembangan ternak kambing perlu lebih diintensifkan minimal mampu memenuhi kebutuhan lokal maupun persediaan matadagangan antarpulau.

Program keterpaduan itu kini dikembangkan dengan sasaran lebih luas yakni pengembangan ternak sapi, kambing dengan seluruh komoditi pertanian maupun perkebunan, sebagai upaya mewujudkan pembangunan pertanian ramah lingkungan.

Untuk menyuburkan lahan petani tidak lagi tergantung pada pupuk urea, namun bisa memanfaatkan limbah kotoran dari ternak serta menggunakan pembasmi hama secara alami.mr-kompas

Jumat, 19 September 2008

Alquran dan Sains Modern

Alquran dan Sains Modern

"Tak ada benturan dan pertentangan antara Islam dengan sains," cetus Ketua Persatuan Ulama Umat Islam Dunia, Dr Yusuf Al-Qaradhawi, dalam sebuah kesempatan. Alih-alih bertentangan, para saintis modern Barat telah membuktikan bahwa ajaran Islam sangat sejalan dengan ilmu pengetahuan modern.

Alquran--sebagai kitab suci dan petunjuk hidup umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 14 abad silam, secara mengagumkan, mengungkapkan sederet fenomena ilmu pengetahuan yang telah terbukti akurasi dan kebenarannya. Hal itu berbeda dengan Bible ajaran Kristen yang justru memiliki banyak perbedaan pandangan dengan ilmu pengetahuan.

Munculnya perbedaan pandangan antara Bible dengan sains memang telah mengundang perdebatan di kalangan penganut Kristen. Banyaknya ketidaksesuaian antara Bible dengan sains diungkapkan Robert C Newman dalam sebuah tulisannya bertajuk Conflict between Christianity and Science. Hal itu kerap mengundang keraguan di kalangan Nasrani tentang kebenaran Bible sebagai firman Tuhan.

Setelah melakukan berbagai penelitian ilmiah, para saintis Barat telah membuktikan kebenaran janji Allah SWT tentang isi Alquran. Dalam surah Albaqarah ayat 2, Allah SWT berfirman, "Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa."

Prof Keith L Moore, guru besar Departemen Anatomi dan Biologi Sel Universitas Toronto, telah membuktikan kebenaran firman Allah SWT itu. "Saya tak tahu apa-apa tentang agama, namun saya meyakini kebenaran fakta yang terkandung dalam Alquran dan sunah," papar Moore yang terkagum-kagum dengan kandungan Alquran yang secara akurat menjelaskan perkembangan embrio manusia.

Berikut ini sebagian kecil fakta penting tentang kandungan Alquran yang sejalan dengan temuan dunia sains modern.

Pembentukan awan
Para saintis telah mempelajari beragam jenis awan. Selain itu, kalangan ilmuwan juga meneliti proses terbentuknya awan dan bagaimana hujan terjadi. Secara ilmiah, saintis memaparkan proses terjadinya hujan dimulai dari awan yang didorong angin. Awan Cumulonimbus terbentuk ketika angin mendorong sejumlah awan kecil ke wilayah awan itu bergabung hingga kemudian terjadi hujan.

Tentang fenomena pembentukan awan dan hujan itu, Alquran pun menjelaskannya secara akurat. Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih. Maka, kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan, seperti) gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS Annur: ayat 43).

Lautan dan sungai
Ilmu pengetahuan modern telah menemukan adanya batas di tempat pertemuan antara dua lautan yang berbeda. Pembatas itu membagi dua lautan sehingga setiap laut memiliki temperatur, berat jenis, dan kadar garam masing-masing. Misalnya, laut Mediterania memiliki air yang hangat serta kadar garam dan berat jenisnya lebih rendah dibandingkan Samudra Atlantik.

Temuan sains modern itu sejalan dengan Alquran yang telah mengungkapkannya sejak 14 abad lampau. Dalam surah Arrahman ayat 19-20, Allah SWT berfirman, ''Dia membiarkan dua lautan mengalir, yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya, ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.''

Perbedaan kadar garam kedua lautan yang dipisahkan pembatas itu juga diungkapkan dalam surah Alfurqan ayat 53, "Dan, Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." Kebenaran ayat Alquran itulah yang membuat para saintis Barat berdecak kagum.

Pentingnya ASI
Dunia kesehatan modern beberapa tahun ini mulai menggaungkan pentingnya pemberian Air Susu Ibu (ASI). Anjuran itu mulai digalakkan karena ASI memiliki banyak keunggulan. Secara ilmiah, ASI merupakan makanan bagi bayi yang telah terbukti memiliki keunggulan dibandingkan dengan susu sapi atau susu yang berasal dari sumber lain. Alquran telah menyatakan pentingnya pemberian ASI bagi bayi dan batita sejak 14 abad lampau.

Dalam surah Albaqarah ayat 233, Allah SWT berfirman, "Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh. Yaitu, bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan, kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf."

Serebrum (otak besar)
Pada surah Al 'Alaq ayat 15-16, Allah SWT berfirman, "Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya. (Yaitu) ubun-ubun orang mendustakan lagi durhaka." Ubun-ubun inilah yang disebut para saintis sebagai serebrum (otak besar). Lalu, apa hubungannya dengan kebohongan dan serebrum?

Secara psikologi, otak besar ini ternyata bertanggung jawab untuk merencanakan, memotivasi, dan memprakarsai hal yang baik ataupun buruk. Otak besar juga bertanggung jawab atas kebohongan dan kebenaran yang dikatakan seseorang.

Pembentukan embrio manusia
Alquran secara gamblang telah menjelaskan proses pembentukan embrio manusia. "Dan, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Lalu, segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus daging. Kemudian, Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain ...." (QS Almu'minun: 12-14).

Fakta yang diungkapkan dalam Alquran itu sungguh mencengangkan para saintis modern Barat. "Saya sungguh sangat membahagiakan bisa membantu mengklarifikasi pernyataan Alquran tentang perkembangan manusia. Jelaslah bagi saya, pernyataan (Alquran) itu pastilah turun kepada Muhammad dari Tuhan," papar Prof Keith L Moore, ilmuwan terkemuka dalam bidang anatomi dan embriologi."Sebab, hampir semua pengetahuan itu belum ditemukan hingga beberapa abad kemudian. Ini membuktikan kepada saya bahwa Muhammad adalah seorang Rasul utusan Tuhan,mr-republika

Kamis, 18 September 2008

Menjadikan Stres Bernilai Positif

Menjadikan Stres Bernilai Positif
Purwanti









Di tengah kondisi masyarakat yang serbasulit saat ini, seperti harga-harga bahan pokok mulai naik, jalanan macet setiap hari, berbagai aktivitas sangat padat, dan merasa jenuh dalam hidup, semua itu dapat membuat stres.

Stres yang tidak diatasi lama-kelamaan bisa membuat si penderitanya depresi. Seperti diketahui, depresi merupakan gejala awal bunuh diri. Stres secara harfiah diartikan mendapat (mengalami) tekanan. Seseorang yang berada di bawah tekanan pada akhirnya akan bermasalah pada fisik dan emosinya. Bila tidak terselesaikan dapat mengarah ke depresi sehingga perlu penanganan medis untuk menyembuhkannya.

Untuk menghindari hal tersebut, Anda perlu mengelola dan mengontrol stres yang dapat menimbulkan tekanan dan penderitaan (distres) menjadi stres yang bernilai positif (eustres). Stres yang dapat dikelola dengan baik bisa menjadi energi positif dan dapat membuat seseorang lebih fokus, semangat, dan terpacu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Misalnya ketika seseorang dimarahi atasannya, jika ia mampu berpikir positif di balik kemarahan atasan, itu bisa menjadi eustres.

"Situasi dan kondisi tidak menguntungkan dalam kehidupan sehari-hari jangan selalu dianggap sebagai masalah yang harus dihadapi dengan kondisi tertekan. Hal ini akan menurunkan kualitas hidup," ujar dr Suryo Dharmono SpKJ (K), spesialis kejiwaan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSUPN CM) yang hadir sebagai pembicara dalam seminar bertajuk Warnai Hidup dengan Mengelola Stres Negatif Menjadi Positif, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, eustres merupakan cara positif untuk menikmati dan menghadapi masalah yang sering kali muncul.

Kelola Stresor

"Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk mengubah distres menjadi eustres. Pertama, mengelola stresor (pemicu stres)," ujarnya.

Jika stresor tidak terlalu mengganggu eksistensi keberlangsungan hidup, tambah Suryo, tidak ada salahnya menghindari stresor tersebut. Seperti kebiasaan begadang, atau pergaulan yang buruk. Tapi jika stresor yang dialami bukan suatu hal yang harus dihindari, misalnya, perkawinan, maka harus melakukan usaha untuk mengelolanya, seperti berkomunikasi dengan pasangan.

Cara kedua mengubah distres, lanjut Suryo, memperbaiki kognitif (berpikir dan bertindak). Pikiran manusia kadang terbangun atas dasar satu sudut pandang saja. Karena itu, apabila hal tersebut tidak sesuai dengan cara pandangnya maka bisa jadi ia akan menjadi stres. Pentingnya seseorang mengubah cara pandang dapat membantu menghadapi dan mencari solusi yang tepat dari sudut pandang yang berbeda.

Ketiga, relaksasi. Kondisi yang santai dan relaks dapat mengurangi perasaan tidak nyaman yang muncul karena perubahan fisiologis yang ditimbulkan. Relaksasi yang dilakukan dapat berupa meditasi, yoga, atau relaksasi otot. Menekuni hobi atau kegiatan yang disenangi juga dapat membantu mengurangi stres.

Pemeriksaan Kesehatan

Namun jika stres sudah mengarah pada tingkat depresi, beberapa tindakan awal akan lebih baik dilakukan. Misalnya, pemeriksaan seperti kondisi fisik (berat badan, tekanan darah, alat vital, dan jantung), pemeriksaan laboratorium (kondisi jantung, kadar alkohol dan obat, fungsi tiroid), serta pemeriksaan psikologis (mengisi kuesioner, investigasi perasaan, pikiran, dan bentuk perilaku untuk mengetahui penyebab depresi).

Terapi untuk mengatasi depresi bisa dilakukan melalui obat-obatan, (farmakoterapi), dan psikoterapi. Secara farmakoterapi, penderita dianjurkan menggunakan obat antidepresan. Obat ini bekerja secara kimiawi di dalam otak dengan mengubah mood pasien sehingga merasa rileks, dapat menganalisis serta mengelola pikiran yang muncul.

Adapun secara psikoterapi, pasien akan menjalani konseling. Yakni pasien diajak sharing untuk membahas pikiran dan perasaannya, mengetahui penyebab depresi yang dialaminya. Psikoterapi membantu membangun kembali rasa kebahagiaan yang mungkin untuk dicapai, mengatur kontrol diri dan mengurangi gejala depresi.

Kedua terapi tersebut dapat dikombinasikan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Namun, deteksi penyebab depresi sedini mungkin dapat membantu menentukan cara pengobatan yang tepat.

Suryo mengatakan ada berbagai hal yang dapat menimbulkan stres dapat muncul jika seseorang mengalami suatu kondisi tertentu (situasional). Kondisi tertekan dapat dihindari jika seseorang memiliki kemampuan untuk mengelola stresor-stresor tersebut. Kemampuan ini berhubungan dengan proses kognitif (pola pikir) seseorang terhadap masalah yang muncul. Dengan demikian, ketika permasalahan muncul, pada akhirnya seseorang akan dapat menentukan apakah ia mampu untuk menyelesaikan atau justru malah menghindari masalah tersebut.

Lebih lanjut, Suryo menjelaskan, respons tersebut tidak dapat dipisahkan dari sistem respons tubuh. Ketika seseorang dihadapkan pada situasi yang dapat mengakibatkan stres, baik secara fisik maupun psikis, kelenjar hypothalamus pada otak akan mengaktifkan autonomic nervous system yang dapat memperlambat sistem pencernaan makanan dan mempercepat kerja sistem kardiovaskular.mr-mediaindonesia

Seperti Tidak Ada Kematian


Karya: Setiyo Bardono

Hujan deras semalaman, menyisakan gerimis yang membuat pagi seakan enggan beranjak. Suasana akhir pekan membuat beberapa penduduk kampung memiliki lebih banyak alasan untuk merapatkan selimut mimpinya. Apalagi tidak ada suara serak dari speaker musholla yang menyerukan berita penting.

Sepertinya memang tak ada alasan bagi beberapa orang untuk segera beranjak dari tempat tidur. Bahkan ketika istri-istri mereka yang baru saja pulang belanja di warung sebelah mengabarkan sebuah berita kematian.
"Bayi Bu Sari meninggal dunia."
"Innalillahi... Bu Sari siapa?"
"Itu lho yang ngontrak di belakang rumah Pak Jajang."
"O..."
“Coba tengokin Pak, kasihan kan…”
“Ibu saja deh…”

Berita kematian itu tetap membuat pagi seakan enggan beranjak. Hujan deras semalaman seperti telah menghanyutkan aroma kematian itu jauh memenuhi empang besar di sudut kampung yang hanya berisi sampah, ikan mujahir hitam dan sapu-sapu. Tapi hujan deras sepertinya tidak mampu menghapus duka yang memenuhi kamar kontrakan seluas 2 x 4 meter di belakang rumah Pak Jajang.

Duka itu tersimak dari pembicaraan tiga orang yang berada di beranda rumah Pak Jajang. Sebuah rekontruksi kematian meluncur terisak dari mulut Bu Jajang.

Duka itu berawal dari ketukan pintu yang begitu menghiba di tengah malam. Bu Sari yang sedang hamil 8 bulan merasakan perutnya mual-mual. Suaminya yang sedang mencari pinjaman uang belum juga kembali. Pak Jajang segera memanggil Mak Icih, dukun beranak langganan kampung Cinangka. Kepiawaiannya menolong persalinan ternyata tidak cukup berarti kali ini. Bayi itu ternyata telah meninggal dalam kandungan. Setelah salah satu lengannya merogoh ke dalam rahim, Mak Icih berhasil mengeluarkannya.

"Kepalanya pecah, darahnya banyak sekali. Darah itu..."
Rekontruksi berhenti mendadak. Tubuh Bu Jajang tiba-tiba terkulai lemah. Pak Jajang segera membopongnya ke dalam rumah. Sepertinya peristiwa malam itu begitu dalam membekas di benak perempuan tua itu.
--- oOo ---

"Suaminya mana...."
Pak Sukri segera menghampiri Pak RT yang datang dengan tergopoh-gopoh.
"Kamu cari papan atau bambu untuk menutup lubang kuburan."
Tubuh Pak Sukri yang tergesa menghilang tiba-tiba kembali lagi dengan sebuah pertanyaan.
"Cari bambu di mana ya?"
"Coba ke rumah Bang Japrak. Itu yang rumahnya dekat rumah Pak RW."
"Kalau rumah Pak RW dimana?"
Pak RT menghela nafas panjang.
"Di belakang musholla atas. Tanya saja di sana."
Petunjuk itu segera melesatkan tubuh Pak Sukri.
"Gimana Te..," tanya Pak Jajang.
"Sudah beres. Tinggal ngubur saja...."

Pak RT membuka kopiah dan menggunakannya sebagai kipas untuk menghalau keringat yang membasahi tubuhnya.
“Kalau bukan karena Mang Ujang, saya sudah angkat tangan. Kartu Keluarga dia nggak punya. Tinggal di sini juga nggak pernah laporan sama saya.”

Mang Ujang adalah satu-satunya penduduk kampung yang mengakui keluarga Pak Sukri sebagai saudaranya. Entah saudara dari mana, tetapi keberadaan Mang Ujang sebagai salah satu tokoh masyarakat, membuat Pak RT mau tidak mau harus turun tangan.
“Sebagai pemilik kontrakan saya sudah sering menyuruhnya untuk lapor ke Pak RT, tapi dia selalu bilang nanti saja kalau ada waktu…”. Suara Pak Jajang seperti sebuah pembelaan.
Beberapa orang ibu-ibu terlihat hilir mudik melayat. Letak kontrakan Pak Sukri yang ada di sebelah rumah, membuat mereka mau tak mau harus melewati beranda rumah Pak Jajang.
“Tadi pagi saya dan Mang Ujang mati-matian membujuk Pak Haji agar mau memberi sedikit tempat untuk menguburkan bayi itu di pemakaman.”
Kata-kata Pak RT seperti meminta sebuah perhatian. Pak Haji yang dimaksud adalah Haji Sabeni yang bertanggung jawab penuh atas segala kegiatan di lahan pemakaman Kampung Cinangka. Orang yang akan dikubur di lahan itu harus terdaftar di Kartu Kuning, yang bisa didapatkan oleh Kepala Keluarga dengan membayar Rp100.000.

Haji Sabeni selalu memegang teguh peraturan tersebut. Kewibawaannya bisa terancam bila mengijinkan sembarang orang yang meninggal untuk dikubur di pemakaman itu. Tapi sekali lagi, keberadaan Mang Ujang sebagai salah satu tokoh masyarakat Kampung Cinangka harus juga diperhitungkan oleh Haji Sabeni. Sepertinya sudah terjadi sebuah kompromi.
“Untung ada jaminan dari Mang Ujang bahwa Pak Sukri adalah benar-benar keluarganya. Kalau tidak, saya juga angkat tangan.”
Kesigapan Pak RT yang terkenal piawai dalam mengatasi berbagai persoalan kembali diuji dalam menangani masalah ini. Sepertinya seorang RT memang harus mempunyai slogan Mampu Mengatasi Masalah Tanpa Masalah.
“O ya, saya harus segera memberitahu Pak Ustad untuk mensholatkan jenazah. Kabarnya siang nanti dia mau kondangan ke luar kota.”

Pak RT kembali tergesa meninggalkan beranda rumah Pak Jajang. Dari dalam rumah terdengar teriakan Bu Jajang yang rupanya sudah siuman.
“Dayat! Cepat bangun. Ada bayi meninggal malah tidur melulu. Sebentar lagi mau diangkat… bantuin gih..”
--- oOo ---

Semua benda yang ada dalam ruangan 2 x 4 meter itu khusyuk mengikuti setiap lafal dan gerakan Pak Ustad. Pak RT dan Dayat, anak Pak Jajang menjadi makmum yang tertatih mengikuti gerakan sholat jenazah. Di atas selembar kasur lepek yang menyita hampir setengah ruangan, berbaring lemah Bu Sari dengan berlinangan air mata memandangi jasad bayinya yang terbungkus rapat selendang batik.
“Pak Ustad, terima ini sebagai syarat…”
Seorang perempuan menyodorkan selembar amplop kepada Pak Ustad setelah menyelesaikan sholat jenazah.
“Wah, nggak usah repot-repot, ini sudah kewajiban kita sebagai sesama muslim,” kata Pak Ustad sambil mengantongi selembar amplop tersebut.
Begitu kaki mereka keluar pintu, Pak Sukri langsung menyambutnya.
“Saya harap Bapak tabah dan ikhlas menghadapi cobaan ini. Bayi lahir sebagai makhluk yang suci. Insya Allah anak Bapak akan masuk surga…”
Wejangan Pak Ustad menjadi butiran air mata yang mengalir perlahan di kedua belah mata Pak Sukri.
“Setiap habis sholat, tolong kirim doa dan Al Fatihah untuk anak Bapak.”
“Terima kasih Pak Ustad.”
Pak Sukri menyalami dan mencium telapak tangan Pak Ustad.
“Sekarang jenazah sudah bisa dibawa ke pemakaman…. Maaf, saya tidak bisa ikut mengantarkannya karena ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan.”
--- oOo ---

Siang itu sepanjang jalan menuju pemakaman, penduduk kampung Cinangka menjumpai perjalanan jenazah menuju pemakaman tanpa arak-arakan. Pak Sukri membopong jenazah anaknya dengan dada dipenuhi dengan berjuta beban. Di sampingnya, tampak Dayat mengikutinya sambil memayungi jenazah dengan payung kecil hitam. Pak RT mengikuti mereka dari kejauhan .
Orang-orang kampung yang melihat dua orang pengantar jenazah itu tak bisa menyembunyikan perasaan yang dipenuhi tanda tanya. Sementara sejumlah anak kecil berseragam merah putih segera lari menghindar.
Ketika melewati jalan aspal, dari kaca mobil yang kebetulan melintas terlontar beberapa uang recehan. Seorang ibu muda berkacamata hitam melongok dari jendela sedan BMW-nya.
“Anak Bapak, ya…”
--- oOo ---

Di permakaman, wangi bunga Kamboja dan kerentaan dua orang penjaga sudah menunggu. Melalui beberapa kelokan di dalam pemakaman sampailah mereka pada sebuah lubang tanah yang siap menerima jenazah yang suci dan tak berdaya itu.
“Bambunya sudah datang apa belum?” Tanya Pak RT yang segera bergabung dengan mereka.
“Tahu nih, kok belum datang juga ya..”

“Udah pakai ini saja… Nanti ditukar saja pakai bambu-bambu itu. Tak baik jenazah harus menunggu lama-lama” Salah seorang penjaga muncul dengan membawa dua buah papan penanda kuburan yang tidak sudah tidak terpakai.
“Lebih afdhol kalau Bapaknya sendiri yang turun,” kata salah seorang penjaga.
“Tolong semua talinya di lepas dan mukanya dihadapkan ke arah kiblat. Pastikan mukanya benar-benar mencium tanah”
Pak Sukri menjalani instruksi itu dengan terbata-bata. Sepertinya dia sulit menemukan muka bayinya yang sudah remuk. Seremuk hatinya ketika harus meletakkan bulatan-bulatan tanah untuk menyangga posisi jenazah. Tapi bagaimanapun juga ia harus mengikhlaskannya ketika papan itu mulai ditutupkan dan onggokan tanah merah perlahan menutupi lubang hingga membentuk sebuah gundukan baru.
“Waduh… kan jenazahnya belum di-adzan-i"
Suara itu seperti petir yang menyambar kesadaran semua orang yang ada di tempat itu.
“Kok nggak ada yang ingat ya. Harusnya tadi sebelum ditutup papan.”
“Ya, namanya juga khilaf”
Pak RT berjongkok dan mendekatkan mulutnya ke gundukan tanah. Suara adzan serak berkumandang.
“Nggak apa-apa. Pasti suara adzan bisa menembus tanah merah ini.”
Dari kejauhan terdengar teriakan Mang Ujang yang tergopoh-gopoh memikul seikat potongan bambu. Semua orang yang ada di pemakaman hanya bisa tersenyum melihatnya.
“Jenazah sudah dikuburkan, kok bambunya baru datang…”
--- oOo ---

Malam harinya Kampung Cinangka menapaki kegelapan seperti malam-malam sebelumnya. Begitu juga dengan kontrakan di belakang rumah Pak Jajang. Lampu menyala redup. Pintu tertutup rapat sejak senja mulai merayap. Hanya berisik televisi dan suara anak-anak yang sayup terdengar.

Sepertinya hanya tebaran bunga dan wangi melati di salah satu gundukan tanah merah di pemakaman pinggir kampung yang benar-benar membaurkan aroma duka. Jejak yang semakin lama semakin layu terbakar panas matahari dan semakin pudar di hembuskan angin malam.

Pada hari kelima sejak kematian bayi Bu Sari, suara tangis kanak-kanak memecahkan terik siang hari. Ibu-ibu yang sedang di beranda rumah mendapati Ryan, anak ketiganya Bu Sari terjungkal dari sepeda mininya. Bu Sari yang sedang duduk di depan pintu kontrakannya, langsung menyerocos begitu melihat anaknya datang dengan tangisan.
“Makanya jangan nakal. Siang-siang main sepeda melulu. Kalau jatuh begini, Mama juga yang repot!”
Cerocosan Bu Sari membuat tangis Ryan semakin kencang, palagi ketika cerocosan berubah menjadi beberapa tamparan. Ryan kecil berlari kencang. Berlari dan terus berlari menuju jalan raya. Bu Sari hanya memandangi anaknya sambil mengumpat.
“Dasar anak nakal!”

Orang Bengkalis Bikin Colok Sambut Tujuh Likur

Menyambut pekan terakhir di bulan Ramadan atau "tujuh likur", masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir Riau, seperti di Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis menggelar tradisi "colok" (pelita) mulai dari tanggal 27 Ramadan hingga malam takbiran.

"Tradisi colok di malam tujuh likur ini telah berlangsung lama. Kegiatan ini wujud dari rasa sayang masyarakat melepaskan bulan Ramadhan," kata Ketua Riau Tourism Board (RTB), Fadlah Sulaiman di Pekanbaru, Sabtu.

Fadlah Sulaiman mengatakan, tradisi masyarakat di malam-malam terakhir Ramadhan itu merupakan salah satu agenda wisata Riau bahkan tradsisi yang hidup ditengah masyarakat itu tiap tahun diperlombakan oleh pemerintah daerah. "Di Pulau Bengkalis, tradisi colok ini sangat hidup. Tiga malam menjelang berakhirnya bulan puasa yang dimulai pada malam ke 27, Pulau Bengkalis sangat semarak karena jutaan colok menghias pulau," ungkap mantan Bupati Bengkalis ini.

Sementara itu informasi yang diterima ANTARA, kaum muda di Bengkalis sibuk menyiapkan colok yang akan dimulai pada tanggal 27 September malam. "Saat ini kami sedang bersiap-siap membuat colok," ujar Ketua Panitia Colok Kampung Damon, Pulau Bengkalis, Dona Fathonah.

Membuat colok yang dimaksudnya tidak hanya mengumpulkan kaleng atau botol bekas minuman ringan yang dijadikan pelita bersumbu tetapi juga menyiapkan gapura di setiap persimpangan jalan di daerahnya. Colok yang jumlahnya sangat banyak itu kemudian ditempatkan pada gapura.

Motif gapura biasanya mengambarkan bangunan masjid atau kaligrafi Alquran dan biasanya satu gapura terdapat ratusan colok yang ditempatkan sesuai dengan bentuk gapura.

Selain ditempatkan pada gapura, colok juga ditempatkan disepanjang pinggiran jalan bahkan colok juga digantungkan pada tali kawat yang melintang diatas badan jalan.

Ketika disinggung perihal bahan bakar minyak tanah yang akan digunakan, Donna mengakui harga minyak tanah di daerahnya cukup mahal berkisar Rp3.500 - Rp6.000/liter namun tidak menjadi halangan kegiatan colok diadakan. "Kami mendapatkan minyak dari iuran masyarakat,"

Parade Bedug Mendorong Lestarikan Budaya Bangsa

Oleh Siri Antoni

Indonesia negara kaya dengan beragam seni budaya yang patut dijaga serta dilestarikan sehingga dapat diwariskan kepada generasi bangsa masa mendatang.

Menjaga budaya yang ada di negeri ini, tentu membutuhkan biaya besar sehingga dapat menggugah dan menjadi titik perhatian anak bangsa.

Melalui kombinasi antara musisi modern dengan budaya tabuh bedug merupakan pilihan cukup tepat, apalagi sudah menjadi agenda tahunan oleh PT. HM. Sampoerna Tbk, dalam melestarikan budaya bangsa.

Manager marketing perusahaan itu untuk area Padang, Agus Basuki, menjelaskan, Sampoerna Hijau Parade Bedug 2008 menyuguhkan sebelas Pentas Akbar mulai di Solok, Sumenep, Madiun, Lampung, Solo, Serang, Tegal, Bogor, Tasikmalaya, Sukabumi dan Depok telah dimulai (10/9).

Pentas pertama ivent akbar menurut jadwal digelar selama 11 hari mulai 10 - 21 september 2008 diawali di Kota Solok, Sumatera Barat untuk bagian Sumatera dan Sumenep untuk rute Pulau Jawa.

Untuk di Kota Solok, dipusatkan di Lapangan Merdeka Solok, Rabu (10/9). Saat itu tampil empat group band ternama yakni Dunia Band, Meteor, Pesona Wangka dan Gigi.

Parade juga akan menampilkan beberapa band papan atas Ibukota antara lain Nidji, Andra and the Backbone, Ungu, Ari Lasso serta band-band yang tengah naik daun seperti D’massive, ST12, Seventeen, Juliette, Marvell, dan musisi-musisi religius yaitu Justice Voice (acapella), Atina serta group musik etnik kontemporer Lembaga Musik Indonesia.

Menurut Agus, memasuki satu dasawarsa Parade Bedug, dilakukan berbagai inovasi dalam menggarap parade seni budaya milik masyarakat Indonesia ini.

Untuk tahun 2008 ini akan dilakukan dua rute yakni rute Jawa dan rute Sumatera.

Rute Jawa diawali dari Sumenep sedangkan rute Sumatera bertolak dari Kota Padang dan pegelaran di Lapangan Merdeka Kota Solok.

Kedua rute tersebut secara rentak (10/9) dimulai dan akan bertemu di Kota Depok secara bersamaan pada 21 September 2008.

Warga Antusias

Parade mendapat sambutan antusias dari berbagai elemen masyarakat mulai dari kedatangan rombongan hingga saat penampilan sejumlah group bend ternama di pentas terbuka Lapangan Merdeka Solok, (10/9).

Meski diwarnai hujan gerimis perjalanan rombongan Parade Bedug ramai diiringi masyarakat mulai dari GOR H. Agus Salim Padang menuju Lapangan Merdeka Solok.

Begitu juga ketika tiba di Kota Solok pada Rabu siang, rombongan juga disambut meriah ribuan warga kota yang memang telah lama ingin melihat dari dekat penampilan grup band ternama Gigi.

Tak heran begitu nyanyian musik menggema masyarakat secara serentak meneriakkan nama Gigi agar segera ditampilkan sore itu. Kaum muda-mudi penggemarnya Gigi, terlihat tidak sabaran untuk mendengar lagu-lagu dari group band ternama itu.

Namun ternyata masyarakat harus bersabar, karena jadwal band Gigi baru akan tampil Rabu malam setelah Shalat Tarawih.

Kendati band yang tampil Rabu sore itu, yakni Dunia Band, Meteor, Pesona Wangka. Penampilan grub band ternama ini diselingi dengan penampilan Lomba Menabuh Bedug yang sengaja digelar panitia penyelenggara.

Agus Basuki, mengaku cukup bangga dan berterima kasih atas sambutan masyarakat yang begitu antusias. Menurut dia, sambutan itu mengindikasikan bahwa kegiatan Parade Bedug mendapat respons positif di tengah masyarakat.

Bedug dan budaya tabuh bedug bisa dijumpai di seluruh wilayah Indonesia meski dalam nama dan fungsi yang berbeda. "Dari kenyataan ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa tabuh bedug bukan hanya milik satu kalangan tertentu saja, tetapi merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa," katanya dan menjelaskan.

Pentas Nasional

Grup tabuh bedug Blitzh satu dari 10 tim yang ambil bagian pada lomba menabuh bedug di lapangan Merdeka Solok, Sumbar. Kekompakan tim Blitzh meraih juara I dalam lombah tabuh bedug itu, karena mampu menyingkirkan sembilan group tabuh bedug lainnya.

Tim yang ikut merebutkan tiket menuju lomba tabuh bedug ke pentas nasional itu, tim tabuh bedug Ghudu, Restart, Ardana, Blitzh, Depaty, Pangeran, Davinci, Istiqamah, Prasening dan Luf.

Atas keberhasilannya, Group Bedug Blitzh berhak membawa pulang uang tunai sebesar Rp2 juta sekaligus mendapatkan kesempatan pengalaman tampil di pentas akbar parade bedug tingkat Nasional di Kota Depok 21 September 2008, memperebutkan hadiah uang tunai senilai Rp50 juta.

Agus Basuk, mengatakan, kegiatan parade itu tidak hanya menyajikan pertunjukan seni dan budaya melalui penampilan musisi pop dan kesenian etnik kontemporer saja, tetapi juga digelar lomba tabuh bedug untuk mencari penabuh bedug terbaik dari 11 kota.

Para pemenang lomba di masing-masing kota akan mendapatkan pengalaman tampil di pentas akbar berkolaborasi dengan musisi pilihan.

Tim penabuh bedug terbaik di setiap kota itu lantas menjalani seleksi nasional di Kota Depok 21 September sekaligus memperebutkan hadiah uang tunai senilai Rp50 juta.

Sementara salah seorang personel Grup Tabuh Bedug Blitzh, Rudi, ketika ditemui, usai menerima hadiah mengaku gembira atas keberhasilan timnya memenangkan lomba tabuh bedug.

Selain itu, mereka juga menunggu-nunggu untuk bisa tampil bareng dengan musisi pilihan di pentas akbar tabuh bedug tingkat nasional.

Ke depan agar penampilan mereka tidak mengecewakan, Rudi dan teman-temannya akan mengintensifkan jadwal latihan sehingga penampilan mereka kian sempurna. "Kita akan berlatih keras agar bisa memberikan yang terbaik pada seleksi nasional tabuh bedug di Kota Depok 21 September mendatang,"

Tips Membuat Kering Tempe



Kering tempe sering jadi "penyelamat" kala kita enggan menyentuh lauk untuk melengkapi nasi. Membuat kering tempe sendiri sebenarnya mudah asal tahu trik suksesnya.

1. Goreng semua bahan sampai kering betul dan matang. Hati-hati dengan kacang yang sering menipu. Bagian luar sudah coklat, tapi bagian dalam masih mentah.

2. Ukuran minyak, gula, dan air harus tepat betul. Bila berlebih dapat membuat tempe jadi melempem.

3. Bila ingin dipanaskan, cukup diaduk-aduk saja di dalam wajan agak lama.

7 Kesalahan Persiapan Mudik

7 Kesalahan Persiapan Mudik

TAHUN ini Anda dan keluarga berencana mudik lagi? Wah, senangnya! Namun ingat, jangan sampai persiapan mudik Anda terganggu 7 kesalahan berikut.

1. Mengepak di Tas yang Salah
Bila bepergian dengan kendaraan pribadi, jangan mengepak pakaian keluarga di dalam satu koper besar. Sebaiknya, gunakan beberapa koper kecil dari bahan kanvas untuk setiap anggota keluarga, yang panjangnya sekitar 60-75 cm. Memang jumlah tas lebih banyak, tapi setiap orang bisa lebih mudah dan cepat mengambil barang bila sewaktu-waktu diperlukan. Dan, menyusun tas-tas tadi di dalam bagasi mobil justru lebih mudah, terutama jika membawa segala macam barang, mulai dari sabun cuci sampai termos air minum.

2. Mengubah Jam Makan
Kesalahan terbesar yang umum terjadi saat bepergian adalah merusak jadwal makan keluarga. Anak-anak akan rewel jika jadwal makannya jadi tak teratur. Begitu anak mulai rewel, kenyamanan perjalanan pasti terganggu. Jadi, usahakan betul agar tetap makan sesuai jadwal. Bila perlu, bawa makanan tambahan dari rumah.

3. Berangkat pada Saat Tak Tepat
Jika tiba di tempat tujuan pukul 20.00, anak-anak tentu akan tetap terjaga sepanjang malam. Caranya, gunakan taktik lain, yaitu berangkat di malam hari, misalnya sekitar pukul 21.00 sehingga anak-anak akan tidur selama perjalanan dan tetap tertidur sampai berhenti beberapa jam sesudahnya. Cara lain, berangkat pagi-pagi sekali dan pastikan tiba di tempat tujuan saat makan malam.

4. Tak Mau Mengaku Bisa Tersesat
Jangan lupa bawa peta! Jangan terlalu yakin Anda tak mungkin tersesat. Mungkin Anda memang pernah ke tempat tujuan beberapa tahun lalu, tapi situasi sekarang belum tentu sama persis seperti dulu di tempat itu. Tentu akan terjadi perubahan di sana-sini selama beberapa tahun belakangan.

5. Mengendarai Mobil Seenaknya
Jangan mentang-mentang sedang berlibur Anda bisa mengendarai mobil seenaknya. Salah satu hal yang paling sering dilakukan di jalanan adalah melanggar peraturan lalu lintas, belok di tempat yang dilarang, atau ngebut. Anda bisa selamat sampai tujuan bila mengendarai mobil secara baik dan memikirkan keselamatan seluruh keluarga.

6. Tak Menyiapkan Dana Tambahan
Pikiran Anda mungkin selalu terpusat pada pengeluaran besar, seperti biaya tiket pesawat, hotel, atau sewa mobil. Anda sering lupa memperhitungkan pengeluaran yang kecil-kecil, seperti untuk membeli oleh-oleh atau makanan ringan. Perhitungkan dan sisihkan dana untuk hal-hal kecil ini agar rancangan anggaran tak kocar-kacir.

7. Lupa, Perjalanan Merupakan Tujuan
Salah satu keuntungan perjalanan darat adalah bisa mampir di berbagai tempat, misalnya di perkebunan teh atau di peternakan sapi. Dengan cara ini anak-anak bisa berlibur sambil mendapatkan pengetahuan lebih. Manfaatkan momen yang berpotensi untuk dinikmati bersama anak-anak. Kesalahan terbesar jika menganggap perjalanan hanya menjadi cara mencapai tujuan saja. Sebaliknya, perlakukan perjalanan sebagai tujuan. Seluruh anggota keluarga pasti akan menikmatinya!

Makanan Pendukung Diet


Ingin langsing dengan cara instan seringkali jadi penyebab gagalnya diet. Para ahli gizi sejak lama sudah mengingatkan bahwa penurunan berat badan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Selain dengan melakukan aktivitas fisik, pengaturan pola makan merupakan keharusan bila Anda ingin selalu sehat dan langsing.

Dunia medis China percaya, kegemukan merupakan akibat dari menurunnya fungsi metabolisme tubuh. Dan mengonsumsi makanan yang memiliki nutrisi yang seimbang adalah cara yang sehat dan tepat untuk menurunkan berat badan. Dr. Maosing Ni, salah satu pengasuh rubrik Yahoo Health, memberikan rahasia langsing dengan lima makanan yang dipercaya bisa memperbaiki kemampuan tubuh dalam mengolah energi dan membuat berat badan turun secara sehat.

Padi-padian
Pilih gandum utuh ketimbang gandum yang sudah diolah seperti nasi putih dan pasta. Menurut Dr. Mao, rahasia langsing orang China dan Korea adalah millet atau serelia (padi-padian) berbiji kecil yang menjadi makanan pokok di Asia Selatan. Millet termasuk dalam kelompok gandum utuh. Padi-padian ini punya kandungan serat tinggi dan vitamin B kompleks, dan mudah dicerna.

Asparagus
Agar penurunan berat badan berjalan sukses, Dr. Mao menyarankan agar Anda mengonsumsi makanan yang kaya klorofil, misalnya asparagus. Sayuran ini merupakan sumber terbaik asam folat, sangat rendah kalori, serta tidak mengandung lemak atau kolesterol. Keistimewaan lain dari sayuran ini adalah kandungan inulinnya, yang sangat baik untuk perkembangbiakan bakteri baik di saluran cerna.

Delima
Jangan lupakan buah-buahan segar untuk mendukung diet Anda. Delima merupakan alternatif buah yang menyehatkan karena kaya akan antioksidan, senyawa "ajaib" pencegah kanker. Selain itu, delima juga kaya akan serat dan rendah kalori. Anda bisa mengonsumsinya dalam bentuk jus atau buah segar.

Pine Nut
Pine nut merupakan jenis kacang yang mengandung minyak. Pengobatan China menggunakan pine nut untuk meningkatkan kesehatan organ pencernaan. Minyak kacang ini sering dipakai untuk menekan nafsu makan.

Teh Hijau
Penelitian menunjukkan, mengonsumsi minuman yang mengandung kafein bisa meningkatkan nafsu makan. Teh hijau adalah alternatif yang baik bagi pencinta kopi karena hanya mengandung sedikit kafein dan kaya antioksidan.