Cipadu Jaya 56 Larangan

Senin, 15 September 2008

Wisata Religi, Peninggalan Para Wali

Wisata Religi, Peninggalan Para Wali

Menyimak cikal bakal syiar Islam di negeri ini, tentu tak bisa melepaskan Jawa Tengah sebagai salah satu pusatnya. Di provinsi ini, terdapat banyak bukti kebesaran dan kekuatan syiar Islam oleh sembilan wali (sunan).

Tak hanya umat dalam negeri sendiri, kemasyuran dan bukti kebesaran syiar itu juga telah dikenal di manca negara. Antara lain, Masjid Agung Demak, Masjid Menara, serta makam Sunan Muria di Colo, Kabupaten Kudus.

Masjid Agung Demak sampai saat ini masih berdiri megah di alun-alun kota Demak. Masjid ini termasuk salah satu masjid tertua yang dibangun pada masa kejayaan Kasultanan Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.

Masjid itu dibangun oleh sembilan wali penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-15, atau tahun keemasan Kasultanan Demak Bintoro di bawah pemerintahan Raden Fattah (Sultan Syah Alam Akbar Fattah).

Arsitektur masjid ini khas dengan bangunan Jawa kuno. Atap berbentuk piramida susun tiga yang ditopang oleh empat tiang penyangga utama atau disebut soko guru.

Ke-empat tiang utama ini merupakan 'sumbangan' dari Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Gunungjati serta Sunan Ampel.

Meski sudah direkonsolidasi, keempat tiang utama penyangga atap itu tetap menjadi daya tarik masjid Agung Demak.

Salah satu legenda warga Bintoro --sebutan tlatah Demak-- adalah keunikan soko guru Sunan Kalijaga. Karena tiang penyangga ini dirangkai dari tatal atau serpihan dan potongan kayu, yang sebenarnya hampir tak terpakai lagi

, menjadi satu kesatuan yang kokoh untuk menyangga atap di sisi sebelah kanan dari pintu utama masjid yang menghadap ke arah mimbar khotbah (dampar kencono).

Meski tatal tersebut sudah tidak bisa dilihat wujudnya --jika berada di masjid agung Demak-- jangan lupa menikmati berbagai koleksi peninggalan sejarah Kesultanan Demak dan para Walisongo di museum masjid.

Beberapa tiang utama masjid yang asli peninggalan wali, sirap atap masjid yang termakan usia dan benda bersejarah lainnya masih tersimpan sebagai koleksi museum.

Berdekatan dengan museum adalah makam raja Demak terdiri atas makam sultan pertama, Raden Fattah (1478- 1518), Raden Patiunus (1518- 1521) serta Raden Trenggono (1518- 1546).

Masih di sekitar kawasan Masjid Agung Demak, ada satu tempat lagi yang menjadi pusat tujuan wisata religi. Yakni makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

Kompleks makam ini hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer arah tenggara dari masjid. Di Desa Kadilangu ini kuncup makam Sunan Kalijaga yang dikelilingi makam kerabat dan para pengikutnya berada.

Setiap tahun pada tanggal 10 Zulhijah, dilaksanakan acara tradisi Grebek Demak, menyambut lebaran haji. Grebek ini, juga didatangi para peziarah dan pedagang barang-barang tradisional dari luar Jawa Tengah.

Di desa ini pula para keturunan Sunan Kalijaga bermukim dengan menyebut sebagai trah Kadilangu. Yakni keturunan dari Raden Syahid atau Lokajaya atau Sunan Kalijaga.

Masjid Menera
Dari Demak, tak lengkap jika perjalanan wisata religi tidak singgah ke kota Kudus. Hanya butuh waktu sekitar 45 menit perjalanan untuk mencapai kota yang sudah kondang dengan sebutan 'kota kretek' atau 'kota jenang' ini.

Di Kudus terdapat Masjid Menara peninggalan Sunan Kudus, salah satu wali songo. Adalah Sunan Kudus (Ja'far Shodiq), yang pernah menjabat sebagai panglima perang Kesultanan Demak.

Untuk menyebarluaskan agama Islam di kawasan Kudus dan sekitarnya, dibangunlah Masjid Al Aqsa yang berdiri di Jl Menara, Kudus kota, atau yang biasa disebut kawasan Kauman.

Namun, masyarakat lebih gampang menyebutnya dengan Masjid Menara ketimbang Masjid Al Aqsa. Tak lain karena masjid ini memiliki ciri khusus, berupa menara syiar dan tempat pengumandang azan yang mirip dengan candi Hindu.

Ciri khas bangunan Majapahit dan Singosari memang melekat pada bebrapa bagian masjid ini. Mulai dari fisik bangunan yang dibuat dari susunan batu bata merah tanpa perekat, gapura serta beberapa ornamen yang menghiasinya.

Hampir sama dengan Masjid Agung Demak, Masjid Menara Kudus juga memiliki atap khas bangunan Jawa berupa piramida susun tiga. Hanya saja bangunan berciri arsitektur Hindu kuno lebih mendominasi.

Terutama gapura ciri khas kerajaan Singosari.
Selain menara, gapura kembar depan hingga gapura kompleks makam Sunan Kudus dan para pengikutnya serta pagar tembok yang mengelilingi bangunan masjid. Bahkan dalam bangunan masjid pun juga terdapat gapura.

Tambahan kubah dan menara bergaya masjid-masjid India, sama sekali tak menenggelamkan aksen candi pada bagian depan bangunan masjid. Penambahan itu justru menunjukkan akulturasi yang sangat harmonis.

Padanan yang paling mencolok berada di pendopo masjid ini. Gapura ber ciri khas bangunan kerajaan Singosari berada tepat di bawah kubah masjid beraksen India. Sehingga, pemandangan yang bisa dilihat dari pendopo masjid ini sangat kontras.


Kudus, Ikon Islam Yang Toleran

Menara Kudus tak hanya menjadi ikon 'kota kretek'. Dalam ranah religi, menara Masjid Al-Aqsa ini juga menjadi ikon Islam sebagai agama yang toleran.

Bentuk konstruksi dan gaya arsitektur menara setinggi 17 meter yang lebih mirip dengan candi zaman Majapahit dan Singosari ini juga menjadi bukti 'sejuknya' Islam yang diajarkan di Kudus pada saat itu.

Sunan Kudus menyebarluaskan ajaran Islam dengan tetap menghormati pemeluk agama Hindu dan Budha yang lebih dominan di Kudus dan sekitarnya pada pertengahan abad ke-16.

Arsitektur Hindu yang melekat pada menara masjid --secara fisik-- ditunjukkan dengan bentuk bangunan yang menjulang dan dibuat dari susunan batu bata merah tanpa semen.

Selain itu, di sekitar masjid juga terdapat delapan pancuran untuk wudu jamaah masjid. Tiap-tiap pancurannya dihiasi dengan relief arca sebagai ornamen penambah estetika.

Ada yang menyebut delapan pancuran wudu itu mengadopsi ajaran Asta Sanghika Marga (delapan jalan kebenaran) yang menjadi pegangan umat Budha.

Uniknya, dengan mengedepankan kerifan-kearifan lokal itulah syiar dan ajaran Sunan Kudus lebih mudah mendapatkan tempat di tengah masyarakat. Sehingga, Islam menjadi besar di Pantura timur Jateng. s bowo pribadi.mr-republika

Tidak ada komentar: